Agribisnis

Sulteng Penghasil Terbesar Rotan Nasional

Rotan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang banyak tumbuh di hutan-hutan pada berbagai wilayah Indonesia. Dari 143 juta hektar luas hutan di Indonesia diperkirakan hutan yang ditumbuhi rotan seluas 13,20 juta hektar, dan tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan pulau-pulau lain yang memiliki hutan alam (Jasni dan Supriana, 2005).

Perkembangan produksi rotan di Indonesia mengalami fluktuasi selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir dari tahun 1999 sampai dengan Tahun 2008. Hasil produksi rotan yang dicapai untuk mendukung kebutuhan industri produk jadi rotan dalam negeri dan luar negeri.

Kurang lebih 85% produksi rotan dunia berasal dari Indonesia (Pusat Informasi Kehutanan, 2010).Ekspor bahan baku rotan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, volume naik 12,81 persen dan nilai naik 17,15 persen. Sebaliknya ekspor mebel rotan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, tren volume turun 7,54 persen dan nilai turun 0,85 persen). Demikian juga dengan ekspor kerajinan rotan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, tren volume turun 19,92 persen dan nilai turun 9,26 persen.

Kenaikan ekspor bahan baku rotan disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang membuka ekspor rotan mentah. Sejak dibukanya ekspor rotan mentah dari Indonesia, para penghasil rotan mengekspor rotan mentahnya ke luar negeri.

Ekspor mebel rotan dan kerajinan rotan mengalami penurunan selama kurun waktu lima tahun terakhir dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Penurunan ini dikarenakan industri rotan dalam negeri justru mengalami keterpurukan. Perajin rotan di berbagai daerah mengeluhkan rendahnya harga rotan dunia sehingga ekspor kerajinan dan produk rotan ikut tergerus. Para perajin dan pengusaha mebel di Cirebon, Jawa Barat, misalnya, terjepit akibat minimnya permintaan pasar terhadap mebel rotan. Sebelum 2005, perajin Cirebon mampu mengekspor 3.000 kontainer per bulan. Tapi sejak tahun lalu jumlah ekspor menyusut hampir sepertiganya .

Besarnya ekspor bahan baku rotan dalam kondisi mentah, tidak memberikan nilai tambah (added value) bagi masyarakat. Padahal, nilai tambah yang dihasilkan dari perdagangan produk jadi rotan cukup besar. Seperti digambarkan oleh Sekjen Kementerian Perdagangan , harga bahan baku mebel berupa rotan mentah setengah jadi untuk ekspor USD 1.000 dan yang dibuang tidak terpakai sekitar 10 persen; ketika dijadikan furniture rotan USD 3.000/ton. Dengan demikian harga furniture berbahan baku rotan sudah mengalami kenaikan nilai tambah USD 2.000.

Sulawesi Tengah memiliki kawasan hutan seluas 4.394.932 ha atau sama dengan 64,60 % luas daratan Sulawesi Tengah (6.803.300 ha), yang memiliki potensi bahan baku rotan cukup besar. Rotan dari Sulawesi tergolong kualitas prima, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan jenis rotan yang sama diluar Sulawesi, dan sangat dibutuhkan oleh industri meubel rotan untuk keperluan ekspor. Berdasarkan data hasil survey di Sulawesi Tengah terdapat 38 jenis rotan yang telah diidentifikasi potensial untuk di komersilkan . Sedangkan jenis-jenis yang telah dipergangkan meliputi rotan lambang (Calamus sp.), rotan batang (Daemonorops inops Werb.), rotan tohiti (Calamus simpisipus), rotan merah (Calamus panayuga Becc.), rotan ronti (Calamus axilais), rotan susu (Calamus sp.), rotan umbul (Calamus shympsipus).

Sebagai ibukota provinsi dan sentra perdagangan Sulawesi Tengah, maka besarnya potensi rotan di wilayah ini mendorong berkembangnya industri pengolahan rotan mentah menjadi rotan polis dan rotan core di Kota Palu. Produksi rotan setengah jadi ini diekspor ke luar negeri dan dikirim ke Pulau Jawa. Palu merupakan salah satu sentra penghasil rotan alam terbesar di Indonesia. Produksi rotan alam di Palu mencapai 60 persen dari produksi nasional .

Disamping untuk ekspor dan dikirim antar pulau, rotan polis dan rotan core juga menjadi bahan baku industri mebel rotan dan kerajinan rotan di Kota Palu, dalam memenuhi permintaan konsumen mebel kursi rotan dan kerajinan rota di sekitar Kota Palu. Untuk kebutuhan lokal, penyerapan bahan baku rotan oleh 20 industri kerajinan kecil dan menengah yang mengolah rotan sebanyak dua ton per bulan .

About these ads

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 674 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: