Konservasi Alam

Pengamanan Hutan Secara Partisipatif

Pada tahun 1998, penjarahan kayu besar-besaran yang terjadi di kawasan hutan Perum Perhutani adalah puncak dari upaya masyarakat memecahkan akumulasi persoalannya, baik timbunan masalah masa lampau seperti hubungan inter-personal dan pemenuhan kebutuhan yang tertunda, maupun masalah kontemporer seperti upaya memberi makan para penganggur. Kedua masalah ini hanya menjadi pemicu dimulainya penjarahan. Pada akhirnya sejarah bercerita bahwa tindakan represif polisional yang memakan korban jiwa malah membuat keadaan semakin runyam. Terjadi perusakan, pembakaran, dan pengusiran aparat keamanan, baik dari Perum maupun militer, sehingga tidak ada satu pihak pun yang bisa menangani keadaan.

Anarkhisme masyarakat yang tidak produktif ini disusul oleh masuknya penjarahan terorganisasi yang sangat produktif. Penjarahan terorganisasi ini menunggangi keadaan yang tak terkendali itu lalu para pedagang kayu mengambil keuntungan terbanyak. Tidak ada kinerja pemanenan yang lebih cepat sepanjang sejarah dibandingkan kecepatan menggunduli, lalu mengeluarkan dan mengolah sebagian kayu jati dalam jangka waktu singkat saja.

Penjarahan hanya menguntungkan kaum pemodal besar. Masyarakat yang menjadi pekerja di perdagangan kayu gelap, hanya terkena cipratan trickle down effect saja. Masyarakat hanya mendapatkan sebagian kecil saja tambahan dari penjarahan tersebut tetapi merekalah yang paling sering menjadi kambing hitam pelaku penjarahan dan korban diterapkannya tindak represif berupa razia kayu gelap di desa-desa.

Belajar dari kejadian penjarahan kayu di kawasan hutan Perum Perhutani pada tahun 1998 di atas, maka penyelenggaraan pengamanan hutan perlu diupayakan melalui pendekatan partisipatif.

Konsep pengamanan hutan partisipatif didasari oleh amanah Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Pasal 48 Ayat (5) yang menyatakan bahwa ”untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang sebaik-baiknya, masyarakat diikutsertakan dalam upaya perlindungan hutan”.

Pengamanan hutan partisipatif adalah upaya pengamanan hutan melalui pemberdayaan masyarakat agar senantiasa berpartisipasi aktif menjaga kelestarian sumberdaya hutan, untuk menekan praktek perambahan, pencurian maupun penebangan tanpa izin.

Inti dari pengamanan hutan partisipatif adalah berusaha melestarikan hutan dengan cara mengajak masyarakat untuk ikut serta menjaga dan melestarikan hutan dengan kesadaran sendiri setelah dapat merasakan manfaatnya secara langsung dan tak–langsung. Hal ini tentu saja memerlukan persiapan yang baik mulai dari perubahan pola pikir, penataan kembali hubungan kerja dan hubungan antar-personal, pelibatan lebih banyak pihak/penopang (stakeholder), perimbangan hak dan kewajiban yang adil, serta aturan main yang jelas, fair, dan disertai pengawasan dari banyak pihak. Sampai semua persiapan ini dimulai untuk disusun, disepakati, dan diujicobakan barulah kita akan tiba pada pengamanan hutan partisipatif terintegrasi yang bukan sekadar slogan.

Beberapa aspek yang perlu diimplementasikan pada pelaksanaan pengamanan hutan partisipatif adalah sebagai berikut:

  1. Pengamanan hutan partisipatif merupakan suatu paradigma/kerangka berpikir dan bukannya suatu program kaku yang berdasar juklak-juknis.
  2. Ada inisiatif untuk melakukan pembagian peran, input-process-output, waktu, dan ruang.
  3. Berusaha menempatkan pemerintah daerah sebagai pelayan masyarakat.
  4. Mengaitkan pelaksanaan program ini dengan semangat otonomi daerah.
  5. Berupaya membuat perencanaan bottom-up dan bersifat lokal.
  6. Hubungan kerja antara masyarakat dengan pemerintah daerah merupakan hasil kesepakatan antara masyarakat dengan pemerintah daerah dan kontrak disusun bersama.
  7. Melibatkan LSM dalam pelaksanaan kegiatan pengamanan hutan partisipatif

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

2 thoughts on “Pengamanan Hutan Secara Partisipatif

  1. tanks artikelnya pak…………

    Posted by renaldi | 29 April 2015, 10:22
  2. salut dgn artikelnya bapak…. jadi literatur untuk sy buat tesis… tanks pak…

    Posted by renaldi | 29 April 2015, 10:18

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: