Agribisnis

Pemasaran Mebel Rotan Kota Palu Melalui Pendekatan Budaya

Sulawesi Tengah memiliki kawasan hutan seluas 4.394.932 ha atau sama dengan 64,60 % luas daratan Sulawesi Tengah (6.803.300 ha), yang memiliki potensi bahan baku rotan cukup besar. Rotan dari Sulawesi tergolong kualitas prima, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan jenis rotan yang sama di luar Sulawesi, dan sangat dibutuhkan oleh industri meubel rotan untuk keperluan ekspor. Kota Palu sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu sentra penghasil rotan alam terbesar di Indonesia. Produksi rotan alam di Palu mencapai 60 persen dari produksi nasional. Untuk kebutuhan lokal, penyerapan bahan baku rotan oleh 20 industri kerajinan kecil dan menengah yang mengolah rotan sebanyak dua ton per bulan.

Industri mebel rotan merupakan salah satu usaha yang berkembang di kota Palu. Jenis barang yang diproduksi yaitu perabotan rumah tangga, meliputi seperangkat meja-kursi tamu, meja-kursi makan, kursi goyang, kursi santai serta berbagai macam rak dan barang-barang hiasan. Data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Palu, bahwa sampai dengan tahun 2011 tercatat ada 31 UKM industri mebel rotan. Kota Palu juga memiliki kawasan industri rotan, bahkan merupakan terbesar di kawasan timur Indonesia, yang diharapkan dapat berperan dalam mendorong pengembangan industri mebel.

Agar industri mebel rotan memiliki keunggulan kompetitif dan dapat berkelanjutan, maka pengembangannya perlu dilakukan melalui pendekatan pasar. Salah satu upaya pendekatan pasar yang harus dilakukan adalah meningkatkan konsumsi lokal, dengan memperkenalkan produk dari aspek budaya.

Budaya merupakan faktor yang secara luas mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dan perilaku pembelian. Budaya konsumen dalam hal ini meliputi kebiasaan penggunaan mebel rotan yang dipercaya sebagai warisan kerajinan leluhur pada acara-acara ritual adat istiadat. Dengan demikian, para pemasar harus mengerti bagaimana kultur individu dan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya mempengaruhi perilaku pembelian mebel rotan.

Masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan rotan untuk bahan baku berbagai produk. Ungkapan yang menyatakan bahwa manfaat rotan telah dikenal adalah ”tidak ada rotan akarpun berguna”. Rotan mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang tergambar dari penggunaan alat-alat rumah tangga hingga alat menghukum semisal istilah-istilah pemukul rotan (untuk kasur), cambuk rotan (alat memberikan hukuman adat), kursi rotan, topi rotan, tikar anyaman rotan, kipas rotan, tongkat rotan dan lain-lain. Dalam upaya mempatenkan bahwa kerajinan rotan merupakan salah satu budaya Indonesia, Kementerian Kehutanan mengkampanyekan “The Real Rattan is Indonesia” dan membawa atau mengusulkan rotan sebagai warisan dunia kepada UNESCO.

Sejak dulu, masyarakat Kota Palu biasa mempergunakan mebel rotan untuk ditempatkan di ruang tamu, teras rumah, ruang keluarga atau di ruang makan. Masyarakat merasa bahwa penggunaan mebel rotan memiliki citra lebih tradisional dan alami serta dipercaya merupakan warisan leluhur. Pada hari raya keagamaan, rumah tangga membutuhkan perabot rumah yang serba baru, termasuk diantaranya mebel rotan. Pada acara perkawinan, benda yang dibutuhkan diantaranya kursi untuk mempelai dan para pendamping, diantaranya ada yang menggunakan bahan baku rotan. Kebiasaan ini merupakan hal positif yang berpengaruh pada peningkatan pembelian mebel rotan.

Kebiasaan menggunakan mebel rotan di Kota Palu, dari hasil penelitian pada tahun 2010 terhadap sampel 123 rumah tangga yang dilakukan dengan multi stage cluster sampling dan simple random sampling, diperoleh beragam suku atau daerah asal yang mewarnai karakteristik konsumen mebel rotan, meliputi Kaili (46,34%); Bugis (27,76%); Jawa (9,76%); Menado (4,07%); Banjar (3,25%); Gorontalo (3,25%); Batak (2,44%); Tolitoli (2,44%); Bungku (2,44%); Poso (1,63%); dan Bangkep (1,63%).

Bagi seorang pemasar, informasi mengenai karakteristik konsumen berdasarkan suku/keturunan/daerah asal merupakan inspirasi mengenai produk yang dibutuhkan oleh konsumen berdasarkan segmentasi pasar.

Akhirnya, agar industri mebel rotan di Kota Palu memiliki keunggulan kompetitif dan dapat berkelanjutan, penulis menyarankan kepada pemerintah daerah dan produsen mebel rotan, agar menerapkan strategi bauran pemasaran (marketing mix), dan lebih intensif memperkenalkan produknya dengan informasi yang mengarah pada aspek budaya konsumen.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: