Konservasi Alam

Pengembangan Arboretum Palu

Dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dikenal dua macam pelestarian, yaitu in-situ dan ex-situ. Cara in-situ bersifat pasif, yaitu dengan mengamankan tempat tumbuh alamiah sesuatu jenis, dalam keadaan lingkungan alam dan habitatnya yang asli. Cara ex-situ dilakukan dengan lebih aktif, yaitu memindahkan sesuatu jenis ke suatu tempat pemeliharaan baru. Untuk pelestarian keanekaragaman tumbuhan, diantaranya dipertahankan dalam kebun koleksi tumbuhan, yaitu arboretum.

Pada tahun 2011 ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui SKPD. Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah mulai mengembangkan Arboretum Palu kembali, dengan anggaran APBD, melalui Kegiatan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Hutan Lindung. Pada tahun ini, di Arboretum Palu akan dilakukan pengkayaan tanaman, dengan menanam sekitar 7.500 batang, terdiri dari jenis angsana sebanyak 1.000 batang; mahoni 2.500 batang; dan trembesi 4.000 batang.

Dalam jangka panjang, tujuan pengembangan arboretum ini dalam rangka konservasi genetik bagi pengembangan beragam jenis tanaman, khususnya tanaman endemik, non endemik dan tanaman langka yang berasal dari Sulawesi Tengah. Mengutif Pedoman Pengelolaan Plasma Nutfah yang disusun oleh Komisi Nasional Plasma Nutfah (2002), arboretum merupakan koleksi botani yang khusus diisi dengan jenis pepohonan. Keanekaragaman kultivar pohon diwakili di dalamnya, sehingga arboretum dapat berfungsi sebagai kebun plasma nutfah pepohonan. Pada umumnya arboretum menampung semua jenis tanaman tahunan (buah-buahan, industri, dan perkebunan), baik yang langka maupun yang telah dibudidayakan. Penanaman pohon dalam kebun arboretum biasanya disesuaikan dengan keadaan di alam, tanpa menganut sistem budidaya, tanpa memperhatikan jarak tanam atau arahnya. Namun, tata letaknya masih memperhatikan arah sinar matahari. Dengan cara di atas, terkesan arboretum tersebut sebagai hutan buatan.

Disamping sebagai koleksi botani, Arboretum Palu juga berfungsi sebagai pelindung sistem penyangga sumber daya hutan dan air. Ke depan dapat digunakan sebagai sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat Kota Palu, bahkan masyarakat Sulawesi Tengah secara umum.

Untuk mewujudkan pencapaian tujuan di atas, dalam pengelolaan Arboretum di lapangan tidak selalu akan berjalan mulus, beberapa ganjalan persoalan perlu mendapat memperhatikan secara serius. Beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian meliputi: kejelasan status kepemilikan lokasi; peran serta berbagai pihak; gangguan pencurian kayu dan gangguan ternak sapi.

Kejelasan Status Kepemilikan Lokasi

Menurut Peta Situasi No. 25/1988, yang ditandatangani oleh Kepala Direktorat Agraria Ub. Kasubdit Pendaftaran Tanah dan diketahui oleh Kepala Direktorat Agraria An. Gubernur Kepala Daerah Tk. I Sulawesi Tengah, pada tanggal 10 Desember 1988, bahwa lokasi Arboretum Palu yang terletak di Kelurahan Talise, Kecamatan Palu Timur seluas 97 ha., terdiri dari luas A: 32 ha., dan luas B: 65 ha. Luas ini berbeda dengan hasil pengukuran terakhir pada tahun 2010, bahwa luas arboretum adalah 57 ha. Luas ini pun masih dikurangi dengan jalan baru yang melintasi lokasi arboretum.

Berkurangnya luas arboretum di atas, mengindikasikan bahwa pergeseran ruang dalam pembangunan Kota Palu berdampak kurang menguntungkan pada keberadaan luasan lokasi arboretum. Belum lagi, kebutuhan lahan pada masyarakat dapat menjadi ancaman penyerobotan lahan oleh oknum masyarakat. Diduga, kondisi ini terjadi karena lokasi arboretum belum memiliki kejelasan status hukum. Memperhatikan kondisi ini, maka Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah perlu memiliki sertifikat tanah atas lokasi arboretum.

Peranserta Berbagai Pihak

Mengingat keterbatasan pembiayaan dan keterbatasan SDM pemerintah daerah, maka pengelolaan arboretum perlu dilakukan dengan mengikutsertakan berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap keberadaan arboretum. Masyarakat sekitar lokasi arboretum perlu dilibatkan, tidak hanya sebatas objek, tetapi perlu diposisikan sebagai subjek. Sehingga pelibatan masyarakat dimulai sejak perencanaan sampai evaluasi keberhasilan pengelolaan arboretum. Akan lebih baik lagi bila pengelolaan arboretum juga melibatkan peran serta LSM dan kalangan swasta.

Informasi yang diperoleh dari seorang teman LSM, bahwa salah satu sumber modal yang dapat membantu peranserta masyarakat lokal adalah dari Swasta/BUMN. Swasta/BUMN tidak hanya mentargetkan memperoleh keuntungan (profit) semata tetapi juga berkewajiban melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan bina lingkungan melalui kerangka Coorporate Social Responsibility (CSR).

Bentuk peranserta lain dari orang yang memiliki modal, adalah dengan menetapkan nama dan profil orang pada setiap pohon. Orang yang bersedia menjadi sumber dana tetap dalam memelihara sebatang pohon, maka nama dan profilnya ditempel pada sebatang pohon. Ide ini memang masih terasa aneh, tetapi untuk beberapa orang yang butuh mengaktualisasikan dirinya, ini merupakan sebuah keniscayaan. Teori Maslow menyatakan bahwa Kebutuhan manusia tersusun dalam hierarki, berdasarkan urutan tingkat kepentingannya, kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Gangguan Pencurian Kayu dan Gangguan Ternak

Permasalahan yang perlu mendapat perhatian berikutnya adalah masih terdapat masyarakat yang memerlukan kayu sebagai bahan bakar kompor, baik untuk kebutuhan masak sehari-hari atau untuk usaha rumah tangga. Di sekitar lokasi arboretum juga, terdapat beberapa orang yang memiliki usaha menjual arang kayu, yang kalau tidak ditangani secara serius dan dicarikan solusi yang baik, dapat menjadi ancaman keutuhan tegakan arboretum.

Ternak sapi merupakan salah satu usaha yang telah digeluti oleh sebagian masyarakat Kota Palu secara turun-temurun. Penanganan yang bijak, cerdas dan tegas terhadap permasalahan penggembalaan agar tidak dilakukan di dalam lokasi arboretum perlu mendapat perhatian. Bebepa hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan melalukan pendekatan persuasive terhadap para pemilik ternak, atau dengan membuat pagar yang tidak dapat dilewati oleh ternak.

Sebagai ungkapan penutup, pengelolaan konservasi keanekaragam hayati dan ekosistemnya merupakan suatu kegiatan yang terpadu dan menyeluruh yang meliputi aspek hukum, sosial, budaya, dan ekonomi, oleh karena itu peranserta berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam upaya mewujudkan arboretum sebagai kawasan konservasi ekosistem, pencipta iklim mikro, sarana edukasi, rekreasi, olahraga dan keindahan lansekap Kota Palu.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

2 thoughts on “Pengembangan Arboretum Palu

  1. Tolong tampilkan petunjuk teknis pembuatan arboretum

    Posted by M.Akbar Mubarak | 5 Mei 2013, 08:20
  2. betul pak… jika status tanah belum klir, sayang waktu yg terbuang untuk mengurusnya krn adanya gugatan di masa depatn….

    Posted by Agus Irwanto | 16 Maret 2011, 15:08

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: