Konservasi Alam

Konservasi Tanah

Seperti halnya wilayah lain di Indonesia, pertambahan penduduk wilayah Sulawesi Tengah dengan segala aktivitasnya, seperti pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian, mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya alam. Tidak jarang aktivitas dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan lahan. Pada akhirnya, tidak sedikit lahan mengalami degradasi dan berubah menjadi lahan kritis.

Untuk mempertahankan dan memulihkan fungsi lahan kembali sesuai dengan peruntukannya, perlu dilakukan konservasi tanah. Konservasi tanah ini diarahkan pada tiga perlakuan pokok, yaitu: (1) perlindungan tanah dari butir-butir hujan dengan cara meningkatkan jumlah tutupan tanah dengan bahan organik dan tajuk tanaman; (2) mengurangi jumlah aliran permukaan melalui peningkatan infiltrasi, kandungan bahan organic; dan (3) mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga kecepatan erosi dapat dikurangi.

Upaya penerapan konservasi tanah di wilayah Sulawesi Tengah perlu mendapat perhatian serius. Mengingat kondisi alam di Sulawesi Tengah memiliki karakteristik kemiringan lereng lebih curam dan tipologi daerah aliran sungai yang pendek-pendek.

Secara umum teknik konservasi tanah dilakukan melalui cara vegetatif dan sipil teknis. Konservasi tanah secara vegetatif yaitu teknik konservasi tanah yang menggunakan tanaman atau tumbuhan dan sisa-sisanya.

Berbagai implementasi konservasi tanah secara vegetatif diantaranya sebagai berikut:

  1. Pergiliran Tanaman, adalah sistem pengelolaan tanah dimana beberapa jenis tanaman ditanam berurutan yang satu setelah yang lainnya di tempat yang sama atau diselingi dengan periode bera.
  2. Penggunaan Mulsa, adalah sistem pengelolaan tanah yang menggunakan mulsa atau serasah tanaman.
  3. Penanaman Searah Kontur, adalah sistem pengelolaan tanah dengan cara menanam dalam bentuk jalur mengikuti garis kontur berselang-seling dengan jenis tanaman lain.
  4. Penanaman Tanaman Penutup Tanah, adalah sistem pengelolaan tanah dengan cara menanam tanaman yang biasanya berupa tanaman berumur pendek (kurang dari dua tahun) guna mengendalikan erosi dan meningkatkan kesuburan tanah.

 Sedangkan berbagai implementasi konservasi tanah secara sipil teknis diantaranya sebagai berikut:

  1. Teras Datar, adalah teknik konservasi tanah berupa tanggul tanah sejajar kontur yang dilengkapi saluran di atas dan di bawah tanggul, bidang olah tidak diubah dari kelerengan permukaan asli. Syarat teknis kemiringan lereng < 5 %.
  2. Teras Gulud, adalah teknik konservasi tanah berupa guludan tanah dan saluran air. Diantara guludan besar terdapat beberapa guludan kecil sejajar kontur serta dilengkapi dengan SPA. Syarat teknis kemiringan lereng  8 – 40 %.
  3. Teras Bangku, adalah teknik konservasi tanah dengan cara menguban permukaan lahan miring menjadi teras-teras yang menyerupai bangku dan mengikuti garis kontur. Syarat teknis kemiringan lereng 10 – 40 %.
  4. Sengkedan, adalah teknik konservasi tanah dengan cara menempatkan batang, cabang, ranting kayu atau bamboo mengikuti garis kontur dengan jarak tertentu.
  5. Embung, adalah teknik konservasi tanah berupa kolam penampung air permukaan. Standar teknis kemiringan lereng 2 – 18 %.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

One thought on “Konservasi Tanah

  1. jika pada lahan perkebunan gmna pk???????????/

    Posted by Rhyo_JR (@Rhyo_JR) | 30 Oktober 2012, 13:43

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: