Agribisnis, Konservasi Alam

Pemanfaatan Flora dan Fauna di Sulawesi Tengah

Wilayah Sulawesi Tengah yang terdiri dari cukup banyak hutan tentunya akan memberikan pengaruh terhadap ketersediaan keragaman jenis flora dan fauna. Adanya potensi flora dan fauna yang dimiliki Sulawesi Tengah merupakan sumber daya penting dari sistem penyangga kehidupan, selain itu juga dapat dijadikan sebagai sumber yang mempunyai nilai ekonomi.
Potensi flora dan fauna di wilayah Sulawesi Tengah dengan luas kawasan hutan adalah 4.394.932 ha atau sekitar 64% dari wilayah Provinsi (6.803.300 ha), tentu memiliki keanekaragaman yang cukup banyak. Hutan merupakan salah satu keanekaragaman ekosistem yang paling kompleks, yang diantaranya menyimpan kekayaan flora dan fauna atau tumbuhan dan satwa liar.
Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan atau dipelihara, yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. Sedangkan satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.
Keberadaan tumbuhan dan satwa liar perlu terus dilestarikan melalui pengelolaan yang bijaksana. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.
Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk pengkajian; penelitian dan pengembangan; penangkaran; perburuan; perdagangan; peragaan; pertukaran; budidaya tanaman obat-obatan; pemeliharaan untuk kesenangan.
Beberapa tumbuhan liar yang masuk dalam Appendix CITESII dari Sulawesi Tengah yang sudah dimanfaatkan dalam bentuk perdagangan pada tahun 2010, meliputi gaharu (Gyrinops sp), pakis (Cyathes contaminans), dan beberapa karang (Anthozoa). Sedangkan satwa liar meliputi ular sanca (Phyton reticulatus), biawak air tawar (Varanus salvator), kura-kura forsteni (Indotestudo forsteni), burung serindit Sulawesi (Loriculus stigmatus), burung betet Sulawesi (Prionuturus platurus), burung perkici pelangi (Trichoglossus haematodus).
Sedangkan untuk satwa liar Non Appendix CITES dari Sulawesi Tengah yang sudah dimanfaatkan dalam bentuk perdagangan pada tahun 2010, meliputi kadal duri Sulawesi (Tropidophorus apulus), tokek tanah Sulawesi (Cortodactylus fumosus), merpati (Columba livia), pergam bodas (Ducula bicolor), ayam hutan (Gallus gallus), bondol kepala hitam (Lonchura malacca), decu (Saxicola caprata), tekukur(Strptopelia chinensis), dan beberapa kumbang (Coleoptera).

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: