Agribisnis

Pemasaran Rotan Kota Palu

Industri mebel rotan merupakan salah satu usaha yang berkembang di kota Palu. Jenis barang yang diproduksi yaitu perabotan rumah tangga, meliputi seperangkat meja-kursi tamu, meja-kursi makan, kursi goyang, kursi santai serta berbagai macam rak dan barang-barang hiasan. Data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Palu, bahwa sampai dengan tahun 2011 tercatat ada 31 UKM industri mebel rotan. Kota Palu juga memiliki kawasan industri rotan, yang diharapkan dapat berperan dalam mendorong pengembangan industri mebel rotan.
Agar industri mebel rotan memiliki keunggulan kompetitif dan dapat berkelanjutan, maka pengembangannya perlu dilakukan melalui pendekatan pasar. Salah satu upaya pendekatan pasar yang harus dilakukan adalah meningkatkan konsumsi lokal, karena potensi pasar lokal cukup besar dengan melihat trend populasi penduduk. Jika dibandingkan dengan populasi penduduk Kota Palu dan sekitarnya, tingkat penggunaan mebel rotan masih rendah.
Untuk meningkatkan pembelian mebel rotan oleh masyarakat, beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah faktor budaya konsumen dan sosial konsumen.
Budaya Konsumen
Budaya merupakan faktor yang secara luas mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dan perilaku pembelian. Budaya konsumen dalam hal ini meliputi kebiasaan penggunaan mebel rotan yang dipercaya sebagai warisan kerajinan leluhur pada acara-acara ritual adat istiadat. Dengan demikian, para pemasar harus mengerti bagaimana kultur individu dan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya mempengaruhi perilaku pembelian mebel rotan.
Sejak dulu, masyarakat di Kota Palu biasa mempergunakan mebel rotan untuk ditempatkan di ruang tamu, teras rumah, ruang keluarga atau di ruang makan. Masyarakat merasa bahwa penggunaan mebel rotan memiliki citra lebih tradisional dan alami serta dipercaya merupakan warisan leluhur. Pada hari raya keagamaan, rumah tangga membutuhkan perabot rumah yang serba baru, termasuk diantaranya mebel rotan. Pada acara perkawinan, benda yang dibutuhkan diantaranya kursi untuk mempelai dan para pendamping, diantaranya ada yang menggunakan bahan baku rotan.
Kebiasaan menggunakan mebel rotan di Kota Palu, dari hasil penelitian pada tahun 2010 terhadap sampel 123 rumah tangga yang dilakukan dengan multi stage cluster sampling dan simple random sampling, diperoleh beragam suku atau daerah asal yang mewarnai karakteristik konsumen mebel rotan, meliputi Kaili (46,34%); Bugis (27,76%); Jawa (9,76%); Menado (4,07%); Banjar (3,25%); Gorontalo (3,25%); Batak (2,44%); Tolitoli (2,44%); Bungku (2,44%); Poso (1,63%); dan Bangkep (1,63%).
 
Sosial Konsumen
Sosial merupakan faktor yang kuat dalam mempengaruhi keputusan pembelian mebel rotan. Pola interaksi sosial konsumen rumah tangga perlu diperhatikan oleh pemasar dalam upaya peningkatan pembelian mebel rotan, karena perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok acuan serta peran dan status keluarga.
Hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2010, bahwa sumber dalam mendapatkan informasi tempat penjualan mebel rotan, meliputi teman/keluarga (80,49%); pameran (11,38%); Koran (4,07%); pamplet/brosur (2,44%); radio (1,63%); dan spanduk (0,00%).

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: