Agribisnis

Orientasi Pemasaran Mebel Rotan

Sulawesi Tengah memiliki kawasan hutan yang relatif luas dengan potensi rotan cukup besar. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 757/Kpts-II/99 tanggal 23 September 1999, luas kawasan hutan Sulawesi Tengah sebesar 4.394.932 Ha atau sama dengan 64,60 % luas daratan Sulawesi Tengah, sebesar 6.803.300 Ha. Kawasan hutan Sulawesi Tengah yang berhutan memiliki potensi rotan dengan jenis rotan diantaranya meliputi rotan lambang (Calamus sp.), rotan batang (Daemonorops inops Werb.), rotan tohiti (Calamus simpisipus), rotan merah (Calamus panayuga Becc.), rotan ronti (Calamus axilais), rotan susu (Calamus sp.), rotan umbul (Calamus shympsipus).


Potensi rotan di Sulawesi Tengah yang cukup besar ini mendorong berkembangnya industri pengolahan rotan mentah menjadi rotan polis dan rotan core. Menurut Fahmi Idris (2007) bahwa dari sebanyak 85 persen bahan baku rotan dunia yang dihasilkan Indonesia, bahan baku tersebut sebagian besar berasal dari Sulawesi Tengah dan Kalimantan Tengah, dengan asumsi potensi produksi rotan sebanyak 250 ribu ton hingga 400 ribu ton per tahun. Khusus produksi rotan dari Kota Palu, berdasarkan data rekapitulasi daftar gabungan laporan hasil hutan olahan bukan kayu tahun 2007 pada Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, bahwa dari Kota Palu setiap bulan menghasilkan rata-rata sebesar 157,78 ton rotan polis dan sebesar 71,13 ton rotan core, untuk diekspor ke luar negeri dan dikirim ke Pulau Jawa.

Sebaliknya penyerapan bahan baku rotan oleh industri mebel kursi rotan di Kota Palu masih rendah. Laporan hasil pembinaan industri mebel kursi rotan di Kota Palu – Proyek Pemberdayaan IKM (2003:5-7), menyatakan bahwa dari identifikasi terhadap 10 industri mebel kursi rotan di Kota Palu yang dianggap potensial untuk dikembangkan, industri ini baru memanfaatkan bahan baku rotan dalam jumlah yang terbatas, yaitu bahan baku berkualitas campuran, setiap industri memerlukan bahan baku setiap minggu, sebesar 150 – 300 kg.

Potensi rotan yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh industri mebel kursi rotan dan industri mebel kursi rotan belum mampu menyerap potensi bahan baku yang ada, maka banyak bahan baku rotan yang diselundupkan ke negara-negara yang menjadi pesaing Indonesia untuk produk jadi rotan di pasar internasional (RPPK, 2005:II-13). Beberapa tahun terakhir telah terjadi penyelundupan secara besar-besaran ke negara-negara penghasil mebel kursi rotan terutama Cina, dimana Cina memberi kelonggaran dengan membebaskan bea masuk impor rotan mentah ke negaranya dalam mendukung industri mebel kursi rotan yang menyerap banyak tenaga kerja (Muhammad Natsir Rini, 2006).

Lebih besarnya ekspor bahan baku rotan dibandingkan produk jadi, kurang memberikan nilai tambah (added value) bagi masyarakat. Padahal, nilai tambah yang dihasilkan dari perdagangan produk jadi rotan cukup besar. Seperti digambarkan oleh Sekjen Kementerian Perdagangan (2010), harga  bahan baku mebel berupa rotan mentah setengah jadi untuk ekspor USD 1.000 dan yang dibuang tidak terpakai sekitar 10 persen; ketika dijadikan furniture rotan USD 3.000/ton. Dengan demikian harga furniture berbahan baku rotan sudah mengalami kenaikan nilai tambah USD 2.000.

Tentang besarnya nilai tambah dari produk rotan ini juga dikemukakan oleh Dransfield dan Manokran (1996:17), pada dasawarsa tahun tujuh puluhan Indonesia menjadi pemasok dari kira-kira 90% kebutuhan dunia akan rotan mentah. Dalam tahun 1977, Singapura, yang tidak memiliki sumberdaya rotan yang dapat dipanen secara komersial, memperoleh lebih dari US$ 21 juta dari memproses dan mengkonversi rotan menjadi produk setengah jadi, dengan sekitar 90% pasokannya berasal dari Indonesia. Dalam tahun yang sama, Hongkong, juga tanpa mempunyai rotan mentah sendiri, mengimpor lebih dari US$ 26 juta rotan dan produk rotan, yang setelah konversi dan manufaktur bernilai ekspor sebesar US$ 68 juta. Sebagai pembanding, pangsa Indonesia dalam perdagangan itu, terutama dalam bentuk rotan batangan yang belum diproses, hanya sebesar US$ 15 juta. 

Besarnya potensi rotan di Sulawesi Tengah juga mendorong berkembangnya industri mebel rotan di Kota Palu. Industri ini umumnya masih tergolong industri kecil dan mikro (rumah tangga) dengan pola usaha lokal. Untuk itu, agar memiliki keunggulan kompetitif dan dapat berkelanjutan, maka pengembangan industri mebel kursi rotan perlu dilakukan melalui pendekatan pasar (permintaan konsumen). Keberhasilan dalam pemasaran akan memberikan dampak multifungsi dalam pembangunan agroindustri, seperti menjadi penghela bagi peningkatan produksi, produktivitas dan kualitas produk, memperluas kesempatan kerja dan menjadi kunci utama upaya peningkatan pendapatan.

Salah satu upaya pendekatan pasar yang harus dilakukan adalah meningkatkan konsumsi lokal, karena potensi pasar lokal cukup besar dengan melihat trend populasi penduduk. Jika dibandingkan dengan populasi penduduk Kota Palu dan sekitarnya, tingkat penggunaan mebel kursi rotan masih rendah. Masih rendahnya tingkat penggunaan mebel kursi rotan dapat dilihat dari tingkat produksi oleh industri mebel kursi rotan di Kota Palu. Menurut laporan hasil pembinaan industri rotan di Kota Palu – Proyek Pemberdayaan IKM (2003:3-5), dari 10 industri mebel kursi rotan yng berlokasi di Sentra Mebel kursi rotan Ujuna Indah, rataan produksi per industri adalah sekitar 120 set mebel per tahun.
   
Masih rendahnya penggunaan mebel kursi rotan, tidak hanya dipengaruhi oleh strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang diterapkan oleh para produsen, meliputi produk, price, place dan promotion, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain; budaya, sosial, karakteristik individu, dan psikologis. Oleh karena itu, maka pemasaran produk mebel rotan perlu berorientasi pada faktor-faktor ini.

Budaya merupakan faktor yang secara luas mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dan perilaku pembelian. Masyarakat Indonesia mengenal rotan bukan hanya sebagai bahan untuk mebel atau furniture, tetapi juga digunakan hampir disemua segi kehidupan seperti konstruksi rumah, perabot rumah, perkantoran, jembatan, keranjang, tikar, lampit, tali, dll. Ungkapan yang menyatakan bahwa manfaat rotan telah dikenal masyarakat indonesia adalah ”tidak ada rotan akarpun berguna”. Namun demikian, pengunaan mebel kursi rotan oleh masyarakat masih sedikit, jika dibandingkan dengan penggunaan mebel berbahan baku non rotan seperti kayu, besi, plastik atau lainnya.

Faktor sosial menunjukan interaksi sosial antara konsumen dan mempengaruhi sekelompok orang, seperti pada referensi kelompok, opini para pemimpin dan para anggota keluarga. Masyarakat sebagian besar masih beranggapan bahwa memakai mebel kursi rotan merupakan produk kelas rendah. Hal ini sesuai dengan ungkapan para Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah yang dikutif oleh Harian Kompas Edisi 27 Agustus 2004, bahwa berbagai produk dari rotan kalau dijual di dalam negeri kurang laku, konsumen agak rewel dan belum menghargai nilai produk kerajinan tangan. Padahal di negara lain, dimana masyarakatnya mempunyai pendapatan tinggi menganggap produk berbahan baku alami, seperti halnya rotan sebagai barang yang bernilai seni, bahkan dianggap sebagai barang mewah.

Karakteristik individu adalah unik pada setiap individu dan memerankan aturan utama pada produk yang diinginkan konsumen. Dari sisi karakteristik individu secara umum menunjukkan adanya kecenderungan bahwa pembelian mebel kursi rotan baru sebatas oleh kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga saja. Padahal mebel berbahan baku rotan dapat dimanfaatkan hampir di semua kehidupan dan yang terkait dengan aktivitas seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak.
 
Selanjutnya, faktor psikologis konsumen yang menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang menggunakan mebel kursi rotan masih terbatas pada motivasi untuk memenuhi kebutuhan tempat duduk (sebagai kursi), belum dianggap sebagai  barang yang memiliki nilai seni dan nilai prestise.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: