Opini

Keuntungan Penambang Emas Poboya, Kota Palu?

Dalam tiga tahun terakhir ini, salah satu isu lingkungan yang banyak dibicarakan masyarakat Kota Palu, Sulawesi Tengah adalah kerusakan lingkungan akibat penambangan emas yang ada di Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Di sekitar lokasi ini sekarang dipenuhi dengan mesin-mesin tromol pengolah emas dan lubang-lubang menganga bekas galian para penambang. Beberapa orang mengatakan bahwa udara, air dan tanah di sekitar kawasan ini telah tercemar oleh zat-zat kimia berbahaya, seperti mercuri yang digunakan dalam proses pengolahan penambangan ini. Banyak masyarakat Kota Palu yang menghawatirkan tercemarnya air ledeng (PDAM), mengingat sumber airnya berasal dari sekitar lokasi ini.

Kegiatan penambangan emas ini juga sangat tidak menguntungkan keberadaan kawasan konservasi. Karena, sebagian besar kegiatan penambangan dilakukan di dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). Suatu kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

Dari sisi ekonomi, barangkali bagi pemodal yang memiliki mesin-mesin tromol pengolah emas, kegiatan penambangan emas ini merupakan suatu berkah untuk menambah pundi-pundi kekayaan, dengan cara menerima jasa penggiligan batu-batu yg mengandung emas melalui mesin tromol-nya kepada para penambang. Namun, bagi penambang emas sendiri, apakah kegiatan ini menguntungkan?

Jawaban atas pertanyaan di atas, salah satunya tergambar dalam obrolan saya dengan salah seorang bekas penambang emas di Poboya, yang saya catat dan pernah saya posting di facebook pada tanggal 3 September 2010, sebagaimana di bawah ini.

Kesaksian Si Penambang Emas

Malam ini, baru saja aku ngobrol dengan seorang tukang bangunan yang aku panggil ke rumah. Dia mengatakan dirinya telah mengalami kerugian setelah satu tahun melakukan penambangan emas di Kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Poboya-Paneki, Sulawesi Tengah.

Penambangan emas dilakukan secara tradisional dengan cara menggali dan membuat terowongan di bawah tanah. Karena mengalami kerugian, maka dia kembali bekerja sebagai tukang bangunan.

Dia juga mengatakan bahwa di dalam kawasan Tahura sampai saat ini suasananya lebih ramai layaknya Pasar Masomba atau Pasar Manonda, dua pasar terbesar di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Dia berhenti sebagai penambang liar dan kembali bekerja sebagai tukang bangunan bukan karena dia memahami pentingnya melestarikan hutan, melainkan karena hanya sedikit mendapatkan hasil tambangnya dan akhirnya mengalami kerugian keuangan.

Namun demi melindungi keanekaragaman hayati dan menjaga ekosistem hutan, semoga orang-orang seperti dia akan semakin bertambah. Insya Allah…

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Gambaran Umum Kota Palu, Sulawesi Tengah | egymohamadzain - 7 Juli 2015

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: