Kontemplasi

Percaya Gosip?

Jika kita merenung, ketika kita baru saja tiba di rumah selepas perjalanan yang melelahkan dari tempat kerja. Selama perjalanan pergi-pulang dan selama kita di tempat kerja, kita mendapat informasi dari beragam sumber. Mulai dari banner iklan sebuah produk di pinggir jalan yang di pasang besar-besar, sisa-sisa iklan kampanye yang ditempel di batang pohon, hiruk-pikuk orang menjajakan makanan, anak-anak yang mengiba menawarkan sumbangan, macam-macam berita di koran, tivi yang lagi santer-santernya menyiarkan isu resuffle kabinet, internet dengan segala macam informasinya, pengarahan dari pimpinan, laporan dari bawahan, sampai curhat dan gosip dari teman-teman. 

Dari berbagai sumber informasi di atas, teman merupakan sumber informasi yang mampu membuat orang menjadi terkesan. Apalagi kalau jenis informasinya adalah curhat, gosip, kabar burung, pergunjingan atau sejenis itulah. Secara umum, sebenarnya kita sudah mengetahui bahwa gosip dan pergunjingan merupakan hal yang negatif. Tapi, namanya juga kehidupan, ada yang baik, ada juga yang tidak baik. Informasi yang tidak baik, seperti gosip, justru yang kebanyakan diminati orang, ketimbang mendengar pengajian dari ustad, khotbah dari pendeta, atau wejangan dari biksu.

Kalau boleh diandaikan dengan sejenis makanan, gosip adalah kacang goreng yang gurih dan enak dimakan. Namun bila dimakan akan membuat wajah remaja ABG menjadi jerawatan, atau menyebabkan naiknya kolesterol pada orang tua. Dalam bahasa yang seriusnya, bagi para remaja ABG, gosip mampu membuat suasana menjadi heboh, seheboh wajah para remaja ABG yang jerawatan. Namun bagi orang dewasa, gosip bisa mengotori reputasi orang lain dan membuang-buang waktu percuma.

Walaupun kita sudah mengetahui bahwa gosip merupakan informasi yang tidak benar, namun terkadang kita masih bertanya-tanya, bener nggak Si Anu selingkuh ya?. Sebagai orang melayu, dari kecil, kita juga dibingungkan oleh pepatah yang menyatakan “ada asap ada api”. Bukankah pepatah ini relatif lebih membenarkan materi gosif? Tentang pepatah ini, saya tidak mau kualat terhadap nenek moyang, jadi terkait pepatah, nggak perlulah perdebatannya kita perpanjang, setuju kan?

Agar kita tidak terus dibingungkan oleh gosip, ada metode sederhana yang dapat dimainkan untuk menunjukan bagaimana drastisnya informasi dapat menyimpang dalam proses penyampaiannya. Metode ini berasal dari Andrew Mathews dalam bukunya yang berjudul Making Friends (1999). Beliau membuat permainan menyenangkan seperti di bawah ini.

Kira-kira dua puluh orang berdiri membentuk lingkaran. Seseorang membisikan pesan di telinga orang yang di sebelah kirinya. Penerima pesan kemudian meneruskan pesan pada orang di sebelah kirinya dan demikian seterusnya, hingga pesan diteruskan ke semua orang dalam lingkaran. Kelihatannya hal ini seperti sebuah latihan yang sederhana. Namun apabila kita dengar pesan tersebut sudah kembali pada orang pertama, maka pesan tersebut selalu sangat berbeda dengan pesan awalnya. “ Jonas kehilangan dompet di sekitar rumahnya” menjadi Yani sekarang sedang hamil”. Dalam jarak waktu tiga menit, anda lihat muncul desas-dasus yang seru.

Andrew Mathews berpesan kepada kita untuk berhati-hati terhadap gosip yang kita terima dari seorang teman, lebih lanjut beliau menjelaskan seperti di bawah ini.

Sesuatu yang harus diingat mengenai kabar dari tangan kedua, bila kita tidak mendengar dari nara sumbernya, kita tidak tahu bagaimana hal ini dikatakan. Adalah penting untuk mengetahui bagaimana sesuatu dikatakan. Bacalah kalimat berikut dan lihatlah perubahan artinya bila penekanan diletakan pada kata yang berbeda. 

“Saya tidak mengatakan ia mencuri uang saya”

SAYA tidak mengatakan ia mencuri uang saya (tetapi seseorang mengatakannya)

Saya TIDAK mengatakan ia mencuri uang saya (saya benar-benar tidak mengatakannya)

Saya tidak MENGATAKAN ia mencuri uang saya (tapi saya menyimpulkan demikian)

Saya tidak mengatakan IA mencuri uang saya (tetapi seseorang telah mencurinya)

Saya tidak mengatakan ia MENCURI uang saya (tetapi dia melakukan sesuatu dengan hal tersebut)

Saya tidak mengatakan ia mencuri UANG saya (ia mencuri yang lain)

Saya tidak mengatakan ia mencuri uang SAYA (ia mencuri milik orang lain).

Delapan arti berbeda kita peroleh tanpa mengubah satu katapun. Ternyata, irama, infleksi, dan tekanan merupakan segalanya dalam percakapan. Kecuali anda mendengar kata-kata yang dikatakan, anda tidak dapat menilai secara tepat apa yang dimaksud oleh pemberi berita. Kita semua dapat terjebak, bila tidak berhati-hati.

Meskipun gossip bermula dari suatu kenyataan, namun akan dapat menguap. Apabila memungkinkan, carilah cerita sebenarnya dari sumber yang sebenarnya, sebelum anda bereaksi.

Jadi, siapa yang masih percaya dengan gosip?

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

One thought on “Percaya Gosip?

  1. hmmm,benar…betapa bahayanya lidah,…

    Posted by Citra W. Hapsari | 26 Oktober 2011, 11:29

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: