Konservasi Alam

Diskusi Panduan FPIC REDD Plus Sulawesi Tengah

Pada tanggal 10 – 11 November 2011, di Bogor. Saya bersama dengan beberapa teman dari Pokja IV REDD Sulawesi Tengah lainnya, memenuhi undangan UNREDD Programme Indonesia, untuk mendiskusikan Draft Panduan FPIC (Free Prior and Informed Consent) REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degredation) Sulawesi Tengah, sekaligus membahas materi komunikasinya. Acara diskusi ini juga dihadiri antara lain Ketua dan Sekretaris Pokja REDD Sulawesi Tengah, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Sulawesi Tengah, Dewan Kehutanan Nasional (DKN) dari unsur Kamar Masyarakat, Staf UNDP, dan unsur UNREDD Programme Indonesia.

Acara diskusi berlangsung cukup cair, dengan beberapa hasil diantaranya outline draft panduan yang diantaranya perlu memuat salah satu bab tentang pentingnya FPIC dalam kegiatan REDD+ di Sulawesi Tengah. Bab ini berisi materi (1) Pertimbangan Filosofis, meliputi pandangan hidup komunitas dan landasan dasar negara; (2) Pertimbangan Sosiologis, meliputi konteks masyarakat di dalam dan sekitar hutan – adat, lokal, migran; (3) Kondisi Fisik, meliputi daya dukung lingkungan, ancaman deforestasi dan degradasi; dan (4) Pertimbangan Yuridis Politik, meliputi peraturan dan perundang-undangan yang relevan.

Panduan FPIC yang akan dihasilkan, merupakan panduan yang belum bersifat final, melainkan sebuah langkah awal yang akan diuji coba di tingkat tapak, dan akan dilakukan review kembali setelah memperoleh pengalaman dari hasil uji coba panduan ini. Sehingga, menghasilkan panduan baku yang siap digunakan dalan implementasi kegiatan REDD di Sulawesi Tengah.

Sebagai lokasi uji coba FPIC, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tinombo-Dampelas dan Taman Nasional Lore Lindu layak menjadi lokasi uji coba implementasi FPIC di tingkat tapak, mengingat keduanya memiliki karakteristik pengelolaannya masing-masing. KPHP merupakan konsepsi tentang pengelolaan hutan produksi lestari yang diproyeksikan untuk mengganti konsepsi HPH, sehingga dalam penentuan luasan satu unit KPHP, selain pertimbangan luasan minimum KPHP berdasarkan strata dan jenjang pengawasan, azas pemerataan, dan azas keadilan, juga harus mempertimbangkan azas kelestarian (kelestarian produksi, kelestarian ekologi, dan kelestarian sosial). Sedangkan taman nasional adalah kawasan pelesatarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang menjadi percontohan program REDD. Pelaksanaan program REDD ini diwadahi dalam lima bentuk kegiatan utama, yaitu: mengurangi laju deforestasi, mengurangi degradasi hutan, menjaga ketersediaan karbon melalui konservasi hutan, menerapkan sustainable forest management, dan meningkatkan stock karbon hutan.

Untuk memastikan program REDD menjamin pemenuhan hak masyarakat adat dan lokal, maka FPIC atau PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan) telah menjadi mandat kesepakatan internasional yang mewajibkan pelaksanaan program REDD memenuhi hak masyarakat adat dan atau masyarakat lokal.

FPIC atau PADIATAPA adalah prinsip yang menegaskan adanya hak masyarakat adat  dan atau masyarakat lokal untuk menentukan bentuk-bentuk kegiatan apa yang mereka inginkan pada wilayah mereka, secara lebih rinci dapat dirumuskan sebagai hak masyarakat adat dan komunitas lokal untuk mendapatkan informasi (informed) sebelum (prior) sebuah program atau proyek pembangunan dilaksanakan dalam wilayah adat mereka, dan berdasarkan informasi tersebut, mereka secara bebas tanpa tekanan (free) menyatakan setuju (consent) atau menolak. Dengan kata lain, sebuah hak masyarakat adat dan atau masyarakat lokal untuk memutuskan jenis kegiatan pembangunan macam apa yang mereka perbolehkan untuk berlangsung dalam wilayah mereka.

Disamping bertujuan untuk pemenuhan hak, FPIC merupakan salah satu alat untuk menjamin bahwa pelaksanaan REDD+ di Sulawesi Tengah memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat adat dan masyarakat lokal.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

8 thoughts on “Diskusi Panduan FPIC REDD Plus Sulawesi Tengah

  1. terima kasih kawan telah ikut berpartisipasi aktif untuk melindungi hutan kita. semoga sukses dengan program-programnya. amin

    Posted by ahsinmuslim | 16 November 2011, 14:38
  2. Saya suka hutan, pantai….

    Posted by Mila | 15 November 2011, 11:22
  3. I Love hutan…..😀

    Posted by Budi Nurhikmat | 14 November 2011, 23:00
  4. Wah diskusinya MANTABss pak noer :)…slm prshabatan y

    Posted by p4pm4m | 14 November 2011, 22:11
  5. Kunjungan siang hari, selamat siang, sukses selalu untuk anda sobat…

    Posted by oliviagoodness | 14 November 2011, 19:42
  6. jadi ada peraturan yg jelas nih. Sukses yah mas.

    Posted by Moch Adnan | 14 November 2011, 14:59
  7. kunjungan balik sob, nice posting😀

    Posted by arman budiman | 14 November 2011, 12:59
  8. Sukses buat acara diskusinya ya mas, semoga membawa manfaat.🙂
    Salam hangat dari Lombok.😎

    Posted by irfan handi | 14 November 2011, 12:21

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: