Konservasi Alam, Kontemplasi

Pencerahan Menuju Kearifan Lokal

Kini, kita telah memasuki tahun 2012. Tentu, banyak kenangan suka maupun duka mewarnai tahun 2011 yang sudah berlalu. Ada keinginan yang gagal diraih pada tahun 2011, sebaliknya bisa jadi banyak yang kita peroleh dalam hal-hal yang justru tidak direncanakan pada awalnya. Bagi saya, tahun 2011 memberikan kesempatan untuk mengenal beberapa teman yang aktif mendampingi komunitas adat. Banyak pencerahan yang diperoleh melalui mereka. Realitas yang sebenarnya telah ada sejak berabad-abad yang lalu, namun bagi saya merupakan hal baru.

Pegenalan saya terhadap konsep kearifan komunitas adat, berawal ketika pada beberapa kesempatan di sepanjang tahun 2011, bertemu dan melakukan diskusi dengan Tina Ngata (ibu kampung: satu dari tiga serangkai unsur kelembagaan adat Ngata Toro), dan dengan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Tengah. Puncaknya, ketika saya bersama dengan beberapa teman ikut berkunjung ke Ngata Toro, salah satu wilayah masyarakat adat di Sulawesi Tengah yang terletak berbatasan Iangsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Ngata Toro memiliki kebijakan adat kuat untuk dipatuhi oleh masyarakatnya dalam hal memanfaatkan sumber daya alam. Salah satu ketentuan adat ini diantaranya mengatur tentang larangan dan pantangan.

Ketentuan adat yang dikategorikan masuk larangan, contohnya: (1) Larangan keras pembukaan lahan perkebunan di wilayah yang di kramatkan (zona inti); (2) Tidak diperkenankan membuka hutan atau mengelolah hutan di tempat keluarnya mata air; (3) Dilarang menebang pohon/membuka lahan perkebunan di daerah kemiringan yang terjal.

Sedangkan dalam hal pantangan, contohnya: (1) Dilarang membawa hasil hutan seperti rotan, pandan hutan dan bambu mentah dalam jumlah banyak kekampung melalui persawahan pada masa padi dalam keadaan keluar buah; (2) Larangan menebang kayu yang diketahui sebagai makanan pokok burung-burung dalam hutan.

Ketentuan adat di atas terkesan sangat sederhana, namun memiliki nilai-nilai yang agung, karena kemurnian ide yang terefleksi dari individu-individu yang tergabung dalam sebuah komunitas. Aturan ini, walaupun tidak tertulis seperti hukum-hukum positif yang ditetapkan oleh pemerintah, namun kebijakan adat yang kuat ini dipatuhi oleh masyarakatnya.

Dalam era saat ini, ketika konflik kehutanan seringkali terjadi – menurut catatan LSM HuMa, terjadi 69 konflik di kawasan hutan di sejumlah daerah di Indonesia – semestinya para pengelola kawasan konservasi bersedia mensinergikan kearifan-kearifan lokal seperti di atas.

Pengelolaan kawasan konservasi mestinya tidak hanya terfokus pada aspek teknis semata. Agar pengelolaan kawasan konservasi dapat terlaksana secara efektif, maka dalam pengelolaannya harus berkonsultasi dengan masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan untuk mendapatkan persetujuan. Melalui skema ini diharapkan masyarakat memahami dan mendukung tujuan konservasi keanekaragaman hayati dan menyetujui peluang-peluang yang ditawarkan kepada mereka.

Upaya di atas penting dilakukan, mengingat bahwa secara umum masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan memandang hutan sangat erat hubungannya dengan kehidupan mereka. Memang, perkembangan informasi dan teknologi telah membawa dampak baik dan buruk bagi masyarakat dalam hubungannya dengan hutan. Dimana terdapat masyarakat yang telah mengalami pergeseran-pergeseran pandangan terhadap hutan tersebut. Namun, bagi masyarakat yang pranata adatnya masih kuat tetap menganggap hutan sebagai tempat penghidupan bagi anak cucu mereka.

Terakhir, untuk mencapai tujuan konservasi yang sejati, mesti ada mediasi resolusi konflik dan pemberdayaan masyarakat. Saya berkeyakinan bahwa bekerja secara sinergi lebih baik dari pada bekerja sendirian. Dan, kearifan masyarakat adat bukan hal tahayul yang haram untuk disinergikan dengan sistem pengelolaan hutan di kawasan konservasi.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

18 thoughts on “Pencerahan Menuju Kearifan Lokal

  1. nice ur artikel…..🙂

    Posted by lukisan bunga | 23 Januari 2012, 13:06
  2. di era sedang mencuatnya banyak kasus dan konflik agraria seperti sekarang ini, pembhasan kearifan lokal pas banget rasanya…

    Posted by arif | 13 Januari 2012, 00:31
    • Betul kang. Ke depan, ketika akan menjalankan sebuah proyek mestinya dilakukan konsultasi ke komunital lokal terlebih dahulu, apakah mereka setuju atau tidak. Dgn cara ini, maka pelanggaran terhadap kearifan lokal diharapkan dpt berkurang…

      Posted by Noer | 20 Januari 2012, 02:58
  3. sekarang ini manusia serakah karena rakusnya itu ga pernah terpuaskan . dikasih (+) mnta nambah lagi biar jadi (++) , dan gitu terus seakan kelaparannya terhadap hal apapun itu ga akan pernah ada habisnya malah semakin besar . moga kita selalu dilindungi supaya tetap arif dalam hal apapun amin🙂

    Posted by tiara | 11 Januari 2012, 18:46
  4. Dan kearifan lokal itulah yg sekarang di langgar ya Pak, mengapa orang utan kehilangan tempat hidupnya dan hutan jadi gundul. Sebetulnya siapa yang lebih cerdas, nenek moyang kita yg menetapkan sejumlah aturan atau tabu yg bertujuan melindungi kehidupan atau kita yang berpendidikan tinggi namun berpikir singkat. Kita hanya mementingkan kebutuhan kita hari ini, kita tak memikirkan kelestarian hutan untuk diwariskan pada anak cucu. Kita ini bodoh apa pintar ya Pak?

    Posted by Evi | 10 Januari 2012, 15:44
    • Tradisi – kearifan lokal mestinya mendapat tempat utama dlm upaya konservasi sda ya bu. Karena upaya dgn mengandalkan metologi-metologi yg berbasis ilmu pengetahuan, nyatanya sampe saat ini tidak kunjung menyelesaikan problem konservasi.
      Makasih sudah berkunjung, sukses selalu bu…

      Posted by Noer | 10 Januari 2012, 17:56
  5. Masyarakat yang hidup di sekitar hutan sangat tinggi pengaruhnya terhadap kelestarian hutan.

    Posted by Obat Sakit 2011 | 4 Januari 2012, 07:35
  6. selamat tahun baru bang.. semoga blognya tetap produktif berbagi pengetahuan ke kita..

    Posted by huang | 3 Januari 2012, 23:03
  7. budaya melestarikan hutan kadang lebih menjadi fokus orang2 adat, tidak untuk pemerintah yg seharusnya punya tangung jawab😦

    Posted by Mila | 3 Januari 2012, 21:51
  8. semoga… tahun 2012 menjadi tahun yang penuh berkah🙂

    Posted by DeRie | 3 Januari 2012, 21:35
  9. SEmoga di tahun baru ini segalanya akan lebih baik kang.
    Sukses selalu untuk Anda.

    Posted by Irfan Handi | 3 Januari 2012, 20:18

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: