Konservasi Alam, Kontemplasi

Ketika Mengabaikan Alam

Ungkapan yang menyatakan bahwa alam terbentang luas menjadi guru, dapat bermakna bahwa alam merupakan sumber pembelajaran untuk memahami tentang segala sesuatu. Layaknya perpustakaan yang luas, melalui alam kita dapat melihat dan membaca tentang gejala kehidupan secara nyata. Pemahaman yang kita peroleh dari hasil interaksi dengan alam akan terinternalisasi lebih mendalam, dibanding pemahaman yang kita peroleh dari sekedar membaca atau mendengar cerita dari seseorang.

Untuk mendapatkan pelajaran dari alam, diperlukan kecermatan dan penghayatan terhadap setiap perubahan di dalamnya. Sebagai murid yang baik, manusia perlu mencermati keteraturan alam, menyadari perubahan iklim dan cuaca, memahami dinamika kehidupan manusia, dan peduli terhadap tumbuhan dan satwa.

Sebagai manusia biasa, pernah pada suatu waktu saya tidak dapat menjadi murid yang baik dengan mengabaikan tanda-tanda alam. Peristiwa ini terjadi pada beberapa bulan yang lalu, saat saya bersama dengan seorang teman pergi ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah, sebuah kawasan konservasi yang  diperuntukan untuk pelestarian keanekaragaman hayati. Tujuan saya pergi ke dalam kawasan konservasi ini untuk melakukan identifikasi perambahan kawasan yang disebabkan oleh aktifitas penambangan emas tanpa ijin yang dilakukan oleh masyarakat. Saya bersama teman sengaja memilih berboncengan menggunakan motor, karena dengan jenis kendaraan ini diharapkan dapat lebih mudah mendekat ke lokasi lubang penggalian tambang, dibanding jika menggunakan kendaraan roda empat.

Pada pemukiman penambang, jarak antara pintu masuk pemukiman penambang dengan lokasi penggalian lubang tambang tidak terlalu jauh, kira-kira dua kiloan meter. Kendaraan motor mestinya disimpan di sini, karena medan perjalanan sudah agak berat.  Namun, agar waktu jalan kaki kami tidak terlalu lama, dan hanya dilakukan pada lereng yang memang betul-betul curam dan tidak bisa dilalui lagi oleh kendaraan motor, akhirnya kami tetap menggunakan motor dengan menyeberangi dua sungai.

Ketika kami menyeberangi sungai, langit saat itu kelihatan mendung menandakan akan turun hujan. Namun, karena ingin cepat sampai pada lokasi tujuan, tanda-tanda cuaca ini diabaikan. Kami berharap tak selamanya mendung itu hujan (kayak judul lagu aja).

Rupanya harapan kami agar tak selamanya mendung itu hujan, tidak terkabulkan. Hujan turun dengan cukup deras, beberapa jam setelah kami sampai pada lokasi lubang penggalian tambang, saat kami sedang melakukan survey dan melakukan wawancara dengan beberapa orang penambang.

Karuan saja, dua sungai yang kami seberangi menjadi banjir, jembatan yang terbuat dari susunan batang-batang kayu menjadi hanyut dibawa arus air. Jangankan dapat dilewati oleh motor, para pejalan kaki-pun tidak dapat menyeberang. Kami harus menunggu hingga malam, sampai kondisi sungai tidak terlalu banjir. Setelah arus banjir tidak terlalu besar, akhirnya kami dapat menyeberang, sedangkan kendaraan motor terpaksa harus dititip karena tidak bisa diseberangkan.

Dikarenakan mengabaikan tanda-tanda alam, harapan melaksanakan tugas dengan nyaman menjadi pupus. Pada malam itu kami harus berjalan kaki sepanjang puluhan kilometer, untuk pulang dari kawasan Tahura menuju Kota Palu.

Filosofi alam terbentang luas menjadi guru, juga mestinya dapat diterapkan dalam segala aspek. Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Manusia tidak dapat hidup tanpa udara dan air. Sebaliknya aktivitas manusia mempengaruhi keberadaan sumberdaya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan alam yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang tidak terlepas dari aktivitas manusia, sehingga akan merugikan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana, karena antara alam dan manusia saling mempunyai keterkaitan yang sangat erat.

Sejatinya, keteraturan alam merupakan kehendak yang maha kuasa, oleh karena itu sangat wajar kalau alam sebagai guru yang pantas menjadi panutan, agar yang maha kuasa tidak menimpakan bencana alam kepada manusia.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

19 thoughts on “Ketika Mengabaikan Alam

  1. Alam adalah tempat berpijaknya manusia, jika digambarkan dalam ruang lingkup yang paling kecil misal alam itu adalah rumah. Dan, sebuah rumah jika tidak dirawat akan rusak dan tentunya tidak nyaman untuk dihuni hehe..
    Link-na parantos dilebetkeun, hatur nuhun!

    Posted by kips | 27 Januari 2012, 10:47
  2. alam sangat penting buat kita….harus di jaga jangan sampai kita merusak alam…

    salam kenal n sukses selalu🙂

    Posted by lukisan pemandangan | 23 Januari 2012, 13:04
  3. alam merupakan amanat buat kita yg hidup dimuka bumi ini untuk tetap menjaga dan melestarikan.. GO GREEN !!!🙂

    Posted by djakarta182 | 21 Januari 2012, 14:53
  4. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.
    Sekarang bumi makin panas karena kita mengabaikan kebaikan alam.

    Posted by Marchei Riendra | 20 Januari 2012, 14:48
  5. Pak, sudah malam dan ketimbang jalan kaki berkilo-kilo begitu kok tak bermalam saja disitu? Emang para penambang tiap hari juga pulang ya sehingga gak ada pondokan disitu?

    Posted by Evi | 19 Januari 2012, 23:28
    • Pondokan atau lebih pas dibilang tenda untuk tempat tidur para penambang ada. Cuma saat itu, cuaca lagi kurang bagus bu… Kalo seandainya hujan lagi, bisa jd banjir dan airnya bisa meluap sampe masuk ke tenda-tenda. Lagian, besok harinya kami juga harus merayakan hari raya idul qurban, sehingga kami memilih pulang ke rumah.
      terimakasih kunjungannya bu… .

      Posted by Noer | 20 Januari 2012, 02:24
  6. Sang kuasa memberikan petunjuk dengan memanfaatkan alam semesta supaya manusia dapat mengambil manfaat dan petunjuk dari Sang Kuasa. Dengan menggunakan media alam, manusia akan lebih dapat menerimanya karena alam sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

    Posted by m-amin | 19 Januari 2012, 16:54
  7. Manusia baru akan kelestarian alam ketika alam menjadi marah ketika manusia merusaknya.

    Semoga awal tahun ini manusia sekarang semakin sadar akan kelestarian alam itu sendiri.

    Posted by Abed Saragih | 19 Januari 2012, 16:54
  8. bercumbu dengan alam itu sangat menyenangkan, menentramkan pikiran juga, andia banyak yg tahu tentnag hal ini pasti orang akan berpikir berkali kali dulu sebelum merusak alam bagiamanapun alasannya

    Posted by Ely Meyer | 19 Januari 2012, 14:54
  9. biar bagaimana pun juga kita senantiasa berhubungan degan alam.
    Mari kita jaga terus alam kita.
    Bukan air mata yang diwariskan untuk anak cucu kita melainkan mata air

    Posted by Herdis Suryatna | 19 Januari 2012, 14:49
  10. mari jaga kelestarian alam demi masa depan anak cucu kita semua….

    Posted by Gusti 'ajo' Ramli | 19 Januari 2012, 13:24

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: