Konservasi Alam, Kontemplasi

Nyanyian Sumbang Para Penambang Poboya

Poboya, salah satu kelurahan yang terletak di pinggir Kota Palu, dimana daerahnya berbatasan langsung dengan kawasan Tahura, salah satu kawasan konservasi yang terletak di antara Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Di dalam kawasan konservasi ini seharusnya diperuntukan hanya untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Namun beberapa tahun ini tergerus oleh kegiatan penambangan tanpa ijin yang dilakukan oleh masyarakat. Pola penambangan rakyat di dalam kawasan Tahura  ini, merupakan salah satu dari sekian banyak konflik antara kepentingan konservasi dengan kepentingan rakyat.

Bagi sebagian masyarakat Poboya, keberadaan tambang emas merupakan berkah. Logam berwarna kuning mengkilap yang biasa dibuat perhiasan seperti cincin atau kalung dan mahal harganya ini, menjadi mata pencaharian baru. Dalam beberapa tahun saja, hasil penambangan telah mampu merubah gaya hidup sebagian warga. Beberapa orang penambang bercerita, bahwa semenjak ada kegiatan penambangan, kepemilikan kendaraan pada masyarakat lokal meningkat, dalam satu rumah tangga terkadang memiliki lebih dari satu kendaraan. Perubahan lain terjadi pada lalu lintas kendaraan di wilayah mereka menjadi ramai.

Keberadaan tambang emas Poboya ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal semata, tetapi juga oleh masyarakat migran yang telah terbiasa bekerja di pertambangan. Para pengusaha yang memiliki tromol, mesin yang menggiling dan menghaluskan tanah bebatuan yg mengandung emas, juga termasuk pihak yang diuntungkan dari keberadaan tambang ini.

Kini, tambang emas Poboya seakan telah menjadi sumber mata pencaharian yang menjanjikan. Ribuan orang bergantung langsung pada sumberdaya yang ada di dalam kawasan Tahura ini. Karena itu, seperti diceritakan oleh beberapa orang penambang, bahwa masyarakat lokal Poboya akan selalu mempertahankan kegiatan penambangan agar tidak dilakukan penutupan. Kepada anak-anaknya, mereka mengatakan “biarlah kita mati untuk mempertahankan kegiatan penambangan emas, yang penting kehidupan anak-anaku tidak sengsara seperti saya”. Sebuah interaksionisme simbolik dari rakyat, untuk menjadi perenungan dan mensegerakan tindakan yang bijak para pengambil keputusan di daerah ini.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

15 thoughts on “Nyanyian Sumbang Para Penambang Poboya

  1. Sebenernya Indonesia itu kaya… tapi rakyat tidak bs menikmati kekayaan alam itu😦

    Posted by yunie | 28 Januari 2012, 22:17
  2. Sebenernya Indonesia kaya…
    kita udah merdeka tapi seperti di jajah sm org2 kapitalis…

    Posted by yunie | 28 Januari 2012, 22:15
  3. enak yaa klo ada tambang emas….bisa merasakan hasil bumi yang banyak di minati orang..

    kunjungan malam gan…sekaligus mau perkenalkan percobaan blog self hosting..http://top-iklan.16mb.com
    hehehehe

    Posted by rajacolek | 26 Januari 2012, 22:38
  4. ketika membaca tulisan tentang penambangan seakan menyimpan rasa pilu pada masyarakat😦

    Posted by Aulia | 25 Januari 2012, 02:45
  5. Setuju dgn komentar sebelumnya, kl pun penduduk sekitarnya turut merasakan tingkat kemajuannya thd kebutuhan hidup mereka, itu hanya ala kadarnya saja. Selebihnya dijadikan dalih untuk pengukuhan kekuasaan kaum kapitalis semata.

    Posted by kips | 25 Januari 2012, 00:00
  6. tetangga ane juga ada yg merantau ke kalimantan buat menambang enas sobat…… oh ya link sobat udah menone pasang juga nich bisa di cek disini http://menone.wordpress.com/berita/link-sahabat-menone/

    Posted by MENONE | 24 Januari 2012, 22:13
  7. kalo sudah begini ribet jadinya……pemda tutup mata, warga butuh menyambung nyawa….nyaris tidak ada yang peduli ….

    Posted by MasGiy | 24 Januari 2012, 22:10
  8. Ditempat kami ada juga penambangan seperti ini Mas, Tempatnya di Daerah Sekotong, Lombok barat.

    Posted by LPPL MATARAM | 24 Januari 2012, 20:36
    • Dalam praktek penambangan kayak gini, sejatinya masyarakat hanya sebagai tameng belaka. Padahal dibalik ini, para kapitalis yg memiliki modal siap merebut keuntungan ketika kawasan konservasi dilepaskan. Gimana di sana mas?

      Posted by Noer | 24 Januari 2012, 20:45

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: