Konservasi Alam

Taman Hutan Raya

Agar fungsi utama hutan sebagai penjaga keseimbangan alam terjaga, maka eksistensinya harus tetap dipertahankan melalui pengaturan fungsi hutan. Untuk itu, penetapan hutan dilakukan berdasarkan fungsi-fungsi hutan yang meliputi hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi.

Hutan sebagai sumber penghasil berupa kayu dan bukan kayu dapat dilakukan pada hutan produksi. Sedangkan hutan konservasi dan hutan lindung berfungsi sebagai kawasan lindung yang memiliki fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Hutan konservasi terbagi lagi menjadi hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, dan taman buru. Salah satu jenis hutan pelestarian alam diantaranya adalah taman hutan raya (Tahura).

Sebagai hutan pelestarian alam, Tahura memiliki fungsi untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

Tahura dikenal sejak tahun 1985, ketika diresmikan Tahura Ir. H. Djuanda seluas 590 ha yang berlokasi di Bandung – Jawa Barat. Kemudian, pada tahun 1986 diresmikan pula Tahura yang kedua di Sumatera Barat seluas 240 yang diberi nama Tahura Dr. Muhammad Hatta. Tahura Bukit Barisan yang terletak di Kabupaten Tanah Karo – Sumatera Utara dengan luas 51.600 ha merupakan Tahura yang ketiga diresmikan. Kemudian di Banjar Baru – Kalimantan Selatan diresmikan Tahura yang keempat, dengan nama Tahura Sulta Adam seluas 112.000 ha. Menyusul berturut-turut Tahura R. Soeryo di Jawa Timur seluas 25.000 dan Tahura Wan Abdul Rahman di Lampung seluas 22.224 ha, kemudian Tahura di Nusa Tenggara Timur, Riau, Sulawesi Tengah, Bali dan Bengkulu.

Fungsi dan peran Tahura antara lain: (1) Sebagai sumber plasma nutfah flora dan fauna baik yang asli dari suatu kawasan tertentu maupun hasil-hasil budidaya/rekayasa genetik; (2) Sebagai fungsi lindung terhadap suatu ekosistem alam yang pada akhirnya dapat mempunya dampak positif terhadap hidrologi dan iklim mikro terhadap daerah-daerah sekitarnya; (3) Sebagai wahana dan daerah penelitian ilmu pengetahuan dan pendidikan alam; (4) Sebagai tempat penyuluhan bagi generasi muda untuk dapat mencintai alam dan lingkungan alami; dan (5) sebagai tempat rekreasi dan wisata alam.

Berdasarkan fungsi dan peran tersebut, dalam pengelolaannya Tahura dibagi dalam zona  (1) zona lindung; (2) zona pembinaan flora dan fauna; (3) zona pemanfaatan terbatas; (4) zona pemanfaatan intensif.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

7 thoughts on “Taman Hutan Raya

  1. saya salut atas komitmen dan dedikasi sdr/ adinda about noer. salam lestari dari kami lsm budaya dan lingkungan hidup GARUDAE sul – sel

    Posted by andi muh aras dg. patanga ( direktur eksekutif GARUDAE sul - sel. | 23 Desember 2015, 23:36
  2. kalau kita mencintai alam , alampun akan mencintai kita😀

    Posted by arman budiman | 5 Februari 2012, 14:36
  3. wah,,,saya salut sama mas Noer karena anda penggiat dalam melestarikan cagar alam (hutan).Hebat mas🙂

    Posted by Abed Saragih | 4 Februari 2012, 21:32
  4. Ternyata fungsi hutan itu banyak sekali ya Pak Noer. Dan kalau digunakan bijak dan tak saling menabrak, mestinya akan mensejahterakan banyak orang

    Posted by Evi | 3 Februari 2012, 15:31

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: