Konservasi Alam

Kesaksian Illegal Logging Seorang Perempuan Muda

Sudah seminggu lamanya aku ada di desa, dan hari ini adalah hari terakhir aku berperan sebagai fasilitator sebuah program pemberdayaan di desa ini. Sejak awal aku datang ke desa ini, aku diperlihatkan beberapa foto tentang gambaran desa oleh seorang mahasiswi yang sedang melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Salah satu foto yang cukup menarik saya adalah sebuah jembatan yang konon katanya menjadi khas dari desa ini. Karena ini juga, pada saat para peserta dan panitia kegiatan pemberdayaan masih makan siang, aku bersama dengan tiga orang temanku berjalan-jalan menuju ke pinggir desa.

Setiba di sebuah dusun, setelah melihat bangunan sebuah rumah ibadah agama tertentu yang cukup antik dan konon katanya berukuran terbesar se kecamatan, aku dan tiga orang temanku berjalan lagi hingga kemudian tiba di sebuah sungai yang cukup lebar dengan jembatan gantung yang bangunannya kelihatannya sudah lumayan berumur. Di dekat jembatan ini, beberapa orang berdiri di depan sebuah warung yang juga sebenarnya merupakan rumah sederhana berdinding lembaran papan dan beratapkan seng.

Melihat kami, beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari kami tersenyum ramah dan membalas sapaan kami. Mungkin karena kami berempat adalah perempuan-perempuan muda yang tentunya cantik-cantik – setidaknya ketika kami sedang berada di antara para lelaki seperti sekarang ini. Suasana kemudian menjadi cair dan lebih akrab, setelah salah seorang dari teman kami mencoba berbicara dengan menggunakan bahasa daerah mereka. Memang temanku yang satu ini menguasai beberapa bahasa, maklum bapaknya seorang pribumi sedangkan ibunya seorang peranakan seberang.

Di sungai, nampak sebuah aktivitas yang dilakukan oleh kurang dari sepuluh orang. Mereka sedang sibuk menarik dan mendorong kayu, sementara yang lain sibuk menyusun kayu-kayu itu untuk ditumpuk di kolong jembatan. Dengan suara yang agak keras, salah seorang dari mereka menjelaskan keadaan kayu-kayu itu kepada kami:

“Kayu-kayu ini ditebang dari gunung di bagian atas sana mbak, kemudian kami tarik dan dikumpulkan di bawah jembatan gantung ini, selanjutnya akan dimuat oleh truk untuk dibawa ke sebuah industri penggergajian di desa sebelah”.

Saat itu kulihat telah terkumpul sekitar 89 batang kayu dalam bentuk bantalan – bahasa resmi orang kehutanannya adalah pacakan. Kami pikir, hebat juga tenaga bapak-bapak ini, gimana kalau seandainya ketindih kayu ya? Maklumlah kami berpikir seperti ini, karena kami berempat adalah perempuan-perempuan muda yang biasanya untuk mengangkat ember tempat cucian baju saja – yang tentu nyucinya juga pakai mesin – rasanya berat, dan sering minta tolong kepada suami.

Masih dengan nada yang keras, ia melanjutkan penjelasan:

Biasanya pemuatan kayu dari TO ini dapat mencapai sepuluh truk mbak”

Beruntung dalam seminggu ini kami bergaul dengan beberapa orang masyarakat desa yang pernah bekerja di suatu perusahaan kayu, sehingga istilah TO cukup dimengerti oleh kami. TO adalah sebuah singkatan dari Tempat Oper (bukan: over), sebuah tempat penimbunan kayu sementara yang selanjutnya akan dimuat dan dibawa ke industri gergajian.

Sebelum bergabung dengan teman-temannya, dengan agak berteriak ia mengatakan:

“Penebangan kayu yang kami lakukan ini ada iijinnya kok mbak”

Karena harus melanjutkan kegiatan sosialisasi bersama dengan fasilitaor lainnya, akhirnya kami pun berpamitan kepada mereka, setelah terlebih dahulu menjepret jembatan dan aktifitas mereka beserta tumpukan kayunya, dengan kamera kecilku.

Dalam perjalanan, tidak putus-putusnya kami membicarakan pengalaman yang sangat berharga ini, menyaksikan illegal logging. Sesungguhnya kami tahu bahwa pada kawasan hutan yang ada di desa ini tidak ada ijin penebangan kayu. Lantas siapa yang ngasih  ijin ke mereka ya?

Seandainya aku seorang penegak hukum, pasti akan kucari para cukong dan penadah kayu-kayu itu, agar mereka mempertanggungjawabkan perbuatan tindak pidanya. Sayang aku hanya seorang perempuan muda yang tidak punya backing kuat. Paling-paling yang bisa aku lakukan hanya upaya persuasif melalui sosialisasi agar masyarakat tidak melakukan penebangan kayu lagi. Atau paling banter hanya sebatas menyampaikan saran kepada para pimpinan instansi pemerintah, agar terhadap para penebang liar ini dapat di carikan alternatif pengganti pekerjaan sehingga mereka tidak menebang lagi. Paling terakhir, kalau seandainya semua itu tidak mampu aku lakukan, aku akan berdoa kepada Tuhan supaya menghentikan semua praktek illegal logging, mulai dari hulu hingga hilir, mulai praktek illegal logging yang dilakukan oleh bapak-bapak seperti di atas sampai illegal logging yang dilakukan oleh para pejabat yang kerjanya cuma duduk di belakang meja.

Kepada teman-teman semua, mohon do’anya ya, semoga illegal logging bisa berkurang …

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

22 thoughts on “Kesaksian Illegal Logging Seorang Perempuan Muda

  1. This design is spectacular! You certainly know how to keep a reader entertained.

    Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well, almost.
    ..HaHa!) Great job. I really enjoyed what you had to say, and more than that, how you presented it.
    Too cool!

    Posted by Recommended Internet site | 10 April 2013, 11:50
  2. Tak ada kekuatan yang sanggup menahan kerusakan hutan kita, tak kan ada……uang…..uang…..dengan uang semua bisa terjadi……Tuhan Marah dan alam akan menghukum kita semua yang tak mengerti masalah ini, ….

    Posted by Suharyanto Yayan | 10 Juli 2012, 17:17
  3. sayang sekali pohon di tebang tanpa aturan , maju terus pegiat konservasi hutan

    Posted by aryanto | 12 April 2012, 14:57
  4. semoga mereka yang semangat menebang itu, juga semangat menanam kembali yaa mas.. ngebayangin berpuluh2 truck membaca kayu2 gitu, kok sedih yaa..

    Posted by Dhenok Habibie | 24 Maret 2012, 23:50
  5. “gurita” illegal loging memang telah menjerat kemana-mana sehingga andaikan ada seseorang yang bisa memusnahkannya secara sekaligus tentu akan menyebabkan “keguncangan sosial” terutama pada lapisan massyarakat bawah seperti yang diceritakan diatas. Namun tentu saja hal itu jangan jadi penghambat perjuangan…..karena masih banyak insan2 yang tetap mau menghilangkan illegal loging ini dengan caranya masing2 sesuai kemampuan.

    Posted by abi_gilang | 23 Maret 2012, 11:47
  6. Kesadaran betapa pentingnya hutan masih belum dipahami oleh sebagian masyarakat,
    harusnya aturan alam itu lebih dipahami masyarakat, berapa yang kita ambil dari alam, harus kita siapkan penggantinya kembali.

    Posted by ysalma | 22 Maret 2012, 17:22
  7. sulawesi itu indah banget yaah…pengen banget kesana hehehe

    Posted by rajacolek | 22 Maret 2012, 12:44
  8. kayaknya para pejabat setempat juga dapet bag. sob cz ga mungkin mereka tidak tahu apa yg dialakukan warga tersebut…………………

    Posted by MENONE | 22 Maret 2012, 10:50
  9. semogaaaa cepat sadar ituh yang nebang pohon seenaknya.

    Posted by tuaffi | 22 Maret 2012, 07:34
  10. lihat gambarnya kok aku jadi sedih ya mas, berapa pohon yg telah dipotong itu ?
    semoga ada tindakan serius dari yg berwajib ya

    Posted by Ely Meyer | 22 Maret 2012, 02:40
    • Sudah banyak pohon yg ditebang mbak, sebaliknya mereka tidak melakukan penanaman kembali. Sedih memang mbak, ketika hutan yg mestinya dikelola dgn bijak, dirusak hanya untuk kepentingan beberapa orang …

      Posted by Noer | 22 Maret 2012, 09:21
  11. bekingannya orang2 itu pasti orang kuat ya masbro?

    Posted by Red | 22 Maret 2012, 01:14
  12. Tantangan besar bagi para pegiat konservasi hutan di lapangan ya pak, konservasi vs ekonomi. Selamat berkarya di bidang lingkungan hidup pak. Salam

    Posted by prih | 21 Maret 2012, 20:31

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Cara Mendapatkan Inspirasi Ngeblog Versi Anda « bocahsastra - 27 Maret 2012

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: