Konservasi Alam

Poso: Aku Menerawang Menembus Waktu

BARU saja aku meletakan tas dan bersiap-siap membersihkan badan untuk menghilangkan rasa capek setelah menempuh perjalanan yang berjarak kurang lebih 221 km, tiba-tiba handpone yang belum sempat dikeluarin dari dalam kantong celana jeans berdering. Bapakku menelepon, menanyakan tentang kabar dan menyampaikan beberapa nasihat. Biasanya aku yang duluan menelepon bapak, walaupun terkadang – seperti pada malam hari itu – bapak mendahului meneleponku. Nada suara bapak yang datar dan tenang pada setiap kali menelepon, berubah menjadi lebih ekspresif ketika mengetahui aku sedang berada di Kota Poso.

“Hati-hati di situ nak!…, itu daerah konflik!.”

Kesan bapak tentang konflik yang pernah terjadi di Kota ini sepertinya sangat membekas dalam ingatan beliau, sehingga bapak sangat mengkhawatirkan aku.

Mendengar kekhawatiran bapak, aku berusaha meyakinkan beliau dengan menjelaskan bahwa kondisi Poso sekarang ini sangat aman, berbeda dengan kondisi pada dua belas tahun silam. Kepada beliau, aku menyampaikan beberapa gambaran untuk meyakinkan bahwa Poso telah benar-benar pulih seperti sebelumnya, bahkan lebih maju. Beberapa gambaran yang saya jelaskan diantaranya tentang: (1) pembangunan yang semakin berkembang; (2) investor yang banyak masuk; (3) penyelenggaraan kembali even-even festival kebudayaan; (4) semua elemen masyarakat telah bersatu kembali – tentang hal ini seorang teman mengibaratkan bahwa Kabupaten Poso merupakan gambaran Indonesia kecil, dengan berbagai suku dan agama ada di kabupaten ini; dan (5) aku juga menceritakan tentang papan reklame yang terpasang di pusat kota ini, yang menyatakan kesiapan kabupaten ini menjadi sebuah provinsi baru – Sulawesi Timur.

“Wah  Kabupaten Poso hebat ya, masyarakatnya aman dan damai …”

Akhirnya bapak mengerti terhadap penjelasanku dan mengakhiri pembicaraan teleponnya, dengan mengucapkan rasa kekagumannya atas gambaran kemajuan yang terjadi di Poso. Namun sebelum benar-benar beliau mengakhiri pembicaraan teleponnya, tetap saja beliau berpesan agar aku selalu berhati-hati – sebuah pesan yang umum disampaikan oleh para bapak kepada setiap anak-anaknya.

Di sebuah kamar hotel yang sederhana, aku merebahkan badan sambil sesekali mengarahkan pandangan ke layar televisi, walaupun aku tidak tertarik untuk menonton karena memang acaranya tidak menarik. Maksud hati ingin tidur untuk mengistirahatkan badan yang terasa capek, namun apa daya mata tidak mau terpejam. Kondisi susah tidur seperti itu merupakan hal biasa yang terjadi kalau aku sedang capek. Kalau di rumah, saat-saat seperti itu biasanya aku manfaatin untuk membuka laptop dan menulis, kebetulan saat itu aku tidak membawa barang itu. Untuk membuka internet melalui blackberry-pun signal-nya lelet. Alkisah, akhirnya pikiranku menerawang menembus waktu. Obrolan melalui telepon dengan bapak yang telah berlalu beberapa jam, mengingatkan aku pada dua belas tahun yang silam, ketika baru beberapa tahun aku bekerja.

“Pada dua belas tahun yang silam, pada awal-awal aku menjadi seorang staf di sebuah kantor dinas provinsi dan ditugaskan di bidang yang diantaranya memiliki tugas melaksanakan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Pelaksanaan tugas pokok ini di lapangan dilakukan melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan dan pendampingan masyarakat. Kegiatan-kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang ada di sekitar wilayah desanya – paling tidak konsepnya seperti itu.

Situasi keamanan di wilayah Kabupaten Poso cukup menegangkan. Di sepanjang jalan, banyak terdapat pos-pos yang didirikan oleh warga dan dijaga oleh puluhan orang – bahkan anak-anak yang baru berumur belasan tahun – yang dilengkapi dengan senjata api rakitan dan pedang yang lumayan panjang. Mereka akan memberhentikan semua kendaraan yang lewat untuk memeriksa identitas para penumpang. Kendati jumlah aparat keamanan cukup banyak dan berada di setiap tempat, namun beberapa peristiwa penembakan masih terjadi. Masing-masing kelompok warga yang bertikai memyimpan rasa saling curiga. Sejak kerusuhan terjadi, status keamanan di kabupaten ini dalam kondisi siaga satu.  

Walaupun status keamanan dalam kondisi siaga satu, program pembangunan yang berlokasi di Kabupaten Poso tetap berjalan. Disamping karena sudah direncanakan sejak awal – jauh sebelum ada kerusuhan, juga dikarenakan kabupaten ini memang menyimpan potensi sumberdaya alam yang besar untuk terus dikelola secara bijak. Dengan wilayah yang meliputi kawasan hutan, lembah, pegunungan, dan kawasan lain yang terletak pada pesisir pantai di perairan teluk tomini, kabupaten ini memiliki kawasan hutan yang banyak ditumbuhi kayu agathis, kayu meranti, dan hasil hutan non kayu meliputi rotan dan damar. Sedangkan satwa liar yang terdapat di kabupaten ini diantaranya anoa, babi, babirusa, monyet hitam sulawesi, kuskus, bajing tanah, bajing terbang, kucing hutan, biawak pohon, dan burung maleo.  

Beberapa kali aku bersama dengan teman-teman ditugaskan untuk melakukan kegiatan di desa-desa sekitar kawasan hutan di Kabupaten Poso. Mendapat tugas di tempat ini tentu saja cukup menguji nyali kami. Pengalaman diperiksa atau diinterogasi oleh kelompok-kelompok yang terlibat pertikaian cukup membuat sport jantung. Suasana keprihatinan sekaligus menegangkan juga terjadi, saat kendaraan yang ditumpangi oleh kami harus menepi dan berhenti menunggu karena berpapasan dengan konvoi truk yang membawa para pengungsi dengan pengawalan para aparat keamanan.               

Aku pun pernah melaksanakan sebuah pelatihan di desa yang menjadi basis kelompok tertentu. Dan juga pernah melaksanakan sosialisasi di desa yang menjadi penampungan para pengungsi korban kerusuhan. Bermalam di antara komunitas yang barangkali masih menyimpan dendam akibat pemukiman dan rumahnya dibakar tentu saja membuat tidur kami tidak nyenyak. Setiap kali kami berada pada situasi seperti ini, biasanya kami membuat jadwal tidur. Aku bersama dengan teman-teman waktu tidurnya diatur secara bergantian. Dengan begini, diantara kami selalu ada yang siaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.”  

Malam semakin larut, aku belum juga tertidur. Namun, kedua mata ini terasa mulai berat seperti ada yang membebani, pandangan pun mulai redup seperti lampu yang ber-voltase lima watt. Sayup-sayup aku mendengar alunan musik dero yang masuk menembus dinding dan jendela kamar. Mendengar alunan musik ini, serasa berada di desa-desa di Kabupaten Poso atau desa lainnya di Sulawesi Tengah.

Dero merupakan salah satu dari sebagian besar kesenian tari yang berasal dari tanah Poso, yang melambangkan sebuah ungkapan suka cita dari masyarakat. Tarian massal yang melibatkan seluruh komponen masyarakat ini biasanya dilakukan di tempat yang luas dan lapang, dengan peserta adalah masyarakat secara terbuka, tanpa melihat status sosial, umur maupun jenis kelamin.

Alunan musik dero aku dengar hingga akhirnya aku benar-benar tertidur, dan terbangun pada keesokan harinya untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah diperintahkan oleh bos-ku.

Setelah dua hari berada di Kota Poso, waktu untuk kembali ke Kota Palu pun akhirnya tiba. Namun rupanya perjalanan pulang pada hari itu tidak semulus seperti halnya perjalanan saat pergi pada dua hari sebelumnya. Di sekitar wilayah Tambarana, sebuah jembatan darurat yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan, kembali ambruk. Kendaraan yang mau lewat baik yang dari arah Kota Palu maupun yang dari arah Kota Poso harus menunggu perbaikan kembali jembatan darurat ini. kondisi ini menyebabkan antrian panjang kendaraan. Para penumpang yang tidak betah menunggu di dalam kendaraan banyak yang turun dan duduk-duduk di emper rumah-rumah penduduk. Suasana ramai para penumpang ini dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk membuka warung dadakan, yang menjual minuman, kue, dan makanan lainnya seperti mie dan nasi bungkus.

Ketika baru saja jembatan darurat bisa dilalui, sebuah truk bermuatan rotan yang lewat di atas jembatan darurat terguling, kecelakaan ini menyebabkan jembatan rusak kembali dan menghambat kendaraan lainnya yang mau lewat. Untungnya sopir yang mengendarai truk ini hanya mengalami luka ringan saja. Setelah lebih dari lima jam – kendaraan yang lain bahkan lebih dari lima jam, akhirnya jembatan darurat dapat dilalui kembali. Tetapi hanya untuk kendaraan-kendaraan berukuran kecil saja – selain truk dan bus – dan penumpang harus turun untuk menghindari kecelakaan kembali.

Di sepanjang perjalanan, aku berpikir bahwa kondisi-kondisi seperti inilah yang barangkali menjadi kekhawatiran bapak sehingga beliau berpesan agar aku selalu berhati-hati. Kalau kondisi tentang Poso, seluruh orang yang pernah berkunjung ke sana pun akan sepakat, bahwa Kabupaten Poso merupakan kabupaten yang hebat, dengan masyarakat yang aman dan damai.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

8 thoughts on “Poso: Aku Menerawang Menembus Waktu

  1. Ijin baca2 skaligus menimba ilmu gan… , ok…support u…!!! thanks..!

    Posted by Bisnis Jual Pulsa | 17 Juli 2013, 10:43
  2. Naluri orang tua yg mengamanatkan pd putranya untuk senantiasa berhati-hati, tentu saja tujuannya bukan hanya semata-mata didaerah Poso sj. Semoga perjalanannya menyenangkan dan Poso semakin mantap! Siapa tahu dikemudian hari bisa berkunjung hehe.. Salam hangat!

    Posted by kips | 2 Mei 2012, 10:24
  3. Pengalaman dan cerita yang luar biasa. Di balik kekhawatiran setiap Orang Tua pasti disertai Do’a

    Posted by ΓΣΥΖΗΛ ΡΓΛΤΛΜΛ | 23 April 2012, 23:23
  4. Semoga Indonesia aman dan kemiskinan menjauh, tidak terlalu mencolok pertumbuhan pusat dan daerah, sehingga tidak ada lagi daerah konflik. Poso sudah jauh berbenah, informasi yang benar seperti ini yang harus diperbanyak, rasa aman itu menular jauh.

    Posted by ysalma | 23 April 2012, 12:43
  5. Kunjungan pagi2 mas,
    Setuju sekali menjadikan Kab. Poso menjadi Kab. yg hebat dgn masyarakat yg aman dan damai.

    Posted by misbachudin | 23 April 2012, 08:04
  6. Semoga konflik seperti beberapa tahun yang lalu bisa benar2 hialng dan Poso bisa berbenah dan lebih maju lagi.😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Posted by Sugeng | 22 April 2012, 19:58
  7. Semoga poso tambah maju,aman dan tentram,tak ada konflik lagi..

    Posted by Asyim | 22 April 2012, 19:06
  8. kekhawatiran seorang ayah … bukti cintanya..

    dapat tugas di daerah yang sedang komplik pasti dag dig dug..

    semoga saja kedamaian akan terus terjaga di Poso…

    Posted by uyayan | 21 April 2012, 23:43

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: