Konservasi Alam

Kebijakan Tenurial Kawasan Hutan di Sulawesi Tengah

Seminar Nasional Kehutanan dilaksanakan di Ngata Toro, salah satu wilayah masyarakat adat di Sulawesi Tengah yang terletak berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Secara administrasi, Ngata atau Desa Toro termasuk dalam wilayah Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi. Seminar yang mengambil thema Penyelesaian Konflik Tenurial Kawasan Hutan ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Bantaya pada tanggal 22 Mei 2012. Salah satu materi seminar diantaranya Kebijakan Tenurial Kawasan Hutan dari Gubernur Sulawesi Tengah, yang dipaparkan oleh Dr. Ir. Bunga Elim Somba, M.Sc. – Assisten II, Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Beberapa hal yang dipaparkan dalam materi, di antaranya sebagaimana di bawah ini.

Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang dikaruniai potensi sumberdaya hutan yang melimpah, baik ditinjau dari gatra luas kawasan hutan maupun gatra keanekaragaman hayati. Berdasarkan Draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2010-2030, Luas Kawasan Hutan Provinsi Sulawesi Tengah 3.248.458 Ha (52,20%) dibanding Luas Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah 6.330.466,822 Ha. Dari luasan di atas, terdapat kawasan Budidaya Hutan seluas 1.584.249 yang dapat dimanfaatkan untuk produksi hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu.

Kawasan hutan menggambarkan keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan. Secara umum, karakteristik yang dimiliki oleh kawasan hutan di Sulawesi Tengah, diantaranya:

  1. Memiliki mosaik ekosistem yang mewakili dari biogeografi utama di suatu wilayah.
  2. Memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang signifikan. Karena berada di daerah Garis Wallace menyebabkan sejumlah tumbuhan dan satwa bersifat endemik.
  3. Memiliki potensi untuk dikembangkan dengan pembangunan berkelanjutan.
  4. Memiliki luasan yang cukup untuk mengaplikasikan tiga fungsi, meliputi fungsi konservasi, fungsi sosial dan fungsi ekonomi .

Tujuan Pengelolaan hutan adalah “hutan lestari, masyarakat sejahtera”. Pencapaian tujuan di atas, dilakukan dengan menjamin keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dengan memperhatikan fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan secara seimbang. Konflik tenurial kawasan hutan merupakan persoalan yang krusial, dimana sampai saat ini masih terdapat konflik yang melibatkan masyarakat, institusi bisnis dan pemerintah. Keadaan yang tidak kondusif di atas,  mengakibatkan tersendatnya pencapaian tujuan pengelolaan hutan.

Untuk mencapai tujuan  “hutan lestari, masyarakat sejahtera” di Provinsi Sulawesi Tengah, maka kebijakan kehutanan diarahkan terhadap: (1) Aspek pemantapan kawasan; (2) Aspek pengelolaan tingkat tapak; (3) Aspek penyelesaian konflik tenur; dan (4) Aspek pemberdayaan masyarakat.

 

Pemantapan Kawasan Hutan

Untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan, dilakukan proses pengukuhan kawasan hutan. Proses ini diawali dengan penunjukan, penetapan batas, pemetaan dan penetapan kawasan hutan. Tujuan akhirnya adalah terdapatnya suatu kawasan hutan yang legal dan legitimate.Hingga tahun 2010, kinerja pengukuhan kawasan hutan pada hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi telah mencapai 3.868.777,60 Ha atau 80, 03%. Sebagai wujud mengadopsi kebutuhan di masyarakat yang menyangkut perubahan lingkungan strategis, dilakukan usulan review Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), yang berimplikasi pada berubahnya luas kawasan hutan yang semula 4.394.932 Ha, menjadi 3.248.458 Ha.

 

Pengelolaan di Tingkat Tapak

Untuk memperbaiki pengelolaan kawasan hutan, telah ditetapkan sebanyak 21 wilayah unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP). Saat ini telah terbentuk 1 unit KPHP,  yaitu KPHP Model Dampelas Tinombo. Pembentukan KPH sebagai peluang resolusi konflik.  Dimana pembentukannya memperhatikan dan mempertimbangkan kekhasan masing‐masing daerah. Sebagai organisasi tapak, KPH berkemampuan menggali potensi sekaligus pemetaansosial ekonomi masyarakat, menjalin interaksi dan komunikasi intensif, sekaligus menggali alternative solusi sesuai kebutuhan di masyarakat.

 

Penyelesaian konflik kehutanan

Konflik tenurial kehutanan disebabkan oleh berbagai hal, seperti pelanggaran terhadap prosedur penunjukkan kawasan hutan dan klaim wilayah hutan sebagai hutan negara secara sepihak oleh Kemenhut. Penyebab lain dari konflik tenurial adalah akibat institusi bisnis atau masyarakat yang merambah dan melakukan aktivitas di dalam kawasan hutan secara illegal. Penyelesaian konflik kehutanan akan berdampak positif, tidak hanya pada membuka akses kesejahteraan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan kepastian usaha bagi pemegang izin. Dampak lainnya adalah berkurangnya deforestasi dan degradasi hutan.

Untuk menyelesaikan konflik tenurial di Taman Nasional Lore Lindu, seperti yang terjadi di wilayah Dongidongi dan lokasi lainnya, telah dibentuk kelompok kerja terpadu penataan kawasan hutan Taman Nasional Lore Lindu, melalui Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah No. 188.44/51/RO-Huk-G-ST/2012.

Tugas Pokja Terpadu adalah :

  1. Mengkoordinasikan upaya dan langkah percepatan penyelesaian usulan review tata ruang yang berkaitan dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
  2. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka identifikasi dan inventarisasi seluruh permasalahan Taman Nasional Lore Lindu.
  3. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Pemerintah kabupaten Sigi dan Poso, dalam rangka menetapkan kebijakan penataan kawasan Taman Nasinal Lore Lindu.
  4. Meningkatkan koordinasi dalam rangka pencegahan dan perluasan perambahan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

 

PemberdayaanMasyarakatdi Sekitar Kawasan Hutan

Untuk mengantisipasi berkembangnya potensi konflik maka diupayakan adanya kegiatan yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat melalui skema pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam rangka pemanfaatan sumber daya hutan secara optimal dan berkeadilan. Model pemanfaatan hasil hutan ini diformulasikan ke dalam skema Hutan Desa (HD) dan Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dilakukan di hutan lindung  maupun hutan produksi, sedangkan skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dilakukan di hutan produksi.

Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan konservasi mengacu kepada PP. No. 28 Tahun 2011, tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Kegiatan pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui:

  1. pengembangan desa konservasi;
  2. pemberian izin untuk memungut hasil hutan bukan kayu di zona atau blok pemanfaatan, izin pemanfaatan tradisional, serta izin pengusahaan jasa wisata alam;
  3.  fasilitasi kemitraan pemegang izin pemanfaatan hutan dengan masyarakat.

 

Untuk dapat membaca langsung materi Kebijakan Tenurial Kawasan Hutan oleh Gubernur Sulawesi Tengah di atas, silahkan download di sini.

 

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

4 thoughts on “Kebijakan Tenurial Kawasan Hutan di Sulawesi Tengah

  1. terlalu banyak berteori dan diskusi… Hijaukan lembah Paluu…..!!!!! yg lokasi nya didepan mata para pihak yg katanya peduli dengan Hutan dan Lingkungan…

    Posted by hasbi | 21 November 2013, 09:09
  2. sayangnya hutan kita banyak yang gundul sob…salam kenal nih

    Posted by joe abangirengku | 2 Juni 2012, 00:36
  3. Kunjungan sore sob…,artikelnya menarik sob,dapat menambah pengetahuan ku tentang wilayah dan kehutanan sob..

    Posted by Asyim | 31 Mei 2012, 19:38
  4. Kunjung mas, menarik sekali mas jika tentang lingkungan, sayang pengetahuan saya tentangnya minim, hingga harus sering mampir disini tentunya

    Posted by Kang Sukir | 31 Mei 2012, 17:30

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: