Kontemplasi

Belajar Mengambil Keputusan dari Lembah Mukti

Pada sebuah wilayah dengan masyarakat yang terdiri dari bermacam rupa orang, seringkali ada perselisihan pendapat dalam memilih suatu tindakan tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Agar tujuan bersama ini dapat dicapai, keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif, mau tidak mau mesti diambil. Beberapa metode pengambilan keputusan diantaranya berdasarkan kewenangan pemimpin baik yang melalui diskusi terlebih dahulu ataupun tidak; pendapat ahli atau dengan cara membayar jasa konsultan;  dan kesepakatan bersama oleh masyarakat.

Dalam sebuah kegiatan di desa sekitar kawasan hutan, pelajaran berharga tentang proses pengambilan keputusan saya dapatkan dari Desa Lembah Mukti. Secara adminsitrasi Desa Lembah Mukti berada di Kecamatan Damsol, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa ini merupakan sebuah desa transmigran dengan warga yang awalnya berasal dari daerah Jawa, Bali, Sunda, dan saat ini terdapat juga beberapa suku diantaranya Madura, Kaili, Tator, Manado, Dampelas dan Lombok. Dalam berkomunikasi, bahasa sehari hari yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, namun dalam komunitasnya mereka juga menggunakan bahasa-bahasa asalnya, diantaranya Bahasa Jawa, Bali dan Sunda.

Pada desa ini, mekanisme pengambilan keputusan dilakukan secara berjenjang dari mulai tingkat dusun, hingga terakhir dilakukan di tingkat desa. Proses ini diantaranya dilakukan pada saat mereka menetapkan boleh tidaknya sebuah proyek akan dijalankan atau tidak. Pengambilan keputusan di tingkat dusun dihadiri oleh seluruh masyarakat, sedangkan pengambilan keputusan finalnya dilakukan di tingkat desa dihadiri oleh perwakilan masing-masing dusun yang biasanya berjumlah 3 – 5 orang, ditambah dengan unsur perangkat desa.

Proses pengambilan keputusan dipandu oleh para pimpinan formal. Di dusun dipimpin oleh Kepala Dusun. Sedangkan untuk tingkat desa dipimpin oleh Kepala Desa. Disamping itu beberapa ketua-ketua kelompok tani dan kelembagaan/ormas di tingkat desa, juga cukup berperan dalam proses pengambilan keputusan.

Kemudian, secara umum hasil pengambilan keputusan disosialisasikan kepada masyarakat saat ada pertemuan-pertemuan dalam kelembagaan formal yang ada di desa (BPD, BKMD, dll.) dan kelembagaan kelompok-kelompok tani. Kelembagaan untuk mensosialisasikan hasil pengambilan keputusan secara khusus tidak ada, beberapa hal yang dapat dikatakan membantu dalam mensosialisasikan hasil keputusan diantaranya saat mereka berkumpul pada tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan pura, serta beberapa kelembagaan/organisasi kemasyarakatan, seperti Bamkamdes (bantuan keamanan desa); LKM (lembaga keswadayaan masyarakat); TPK (tim pengelola kegiatan); NU; Muhamadiyah; Risma (remaja islam masjid); dan Utsawe (organisasi keagamaan anak muda hindu).

Dari proses pengambilan keputusan di atas, saya melihat partisipasi penuh dari seluruh masyarakat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil. Selain itu metode ini tepat digunakan untuk mencari solusi atas persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks. Namun demikian, para ahli mengatakan bahwa tidak ada satu metode pengambilan keputusan yang terbaik dibandingkan metode lainnya. Penerapan dari metode pengambilan keputusan ini bisa efektif tergantung dari sisi ketersediaan waktu; tingkat mendesaknya keputusan yang akan diambil; serta pengelolaan tindak lanjut dari keputusan.

Semoga informasi tentang proses pengambilan keputusan ini dapat bermanfaat.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

3 thoughts on “Belajar Mengambil Keputusan dari Lembah Mukti

  1. like,,,klo bisa desa saya di expos lebih detail lagi bang,,,masih banyak hal hal positif yang bisa di kutip dari desa tesebut,,di antaranya,,,kesenian,,,dari masing” dusun…

    Posted by handoko susilo | 17 Februari 2015, 02:20
  2. trimakasih atas pujian terhadap tanahl kelahiran saya pak.. 🙂

    Posted by zulkaarnain | 11 Juni 2012, 21:39
  3. menyenangkan ya mas kalau rakyat ikut dilibatkan dalam mengambil keputusan

    Posted by Ely Meyer | 29 Mei 2012, 19:21

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: