Kontemplasi

Berhadapan Dengan Orang yang Pelit Berbicara

“Orang pintar itu senang kalau ditanya, karena itu kita tidak usah takut untuk bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang kita tidak ketahui”. Kalimat ini merupakan sebuah pesan dari orang tua yang masih saya ingat sampai sekarang. Pertamakali saya mendengar pesan ini semasa saya masih duduk di SMP. Lumayan sudah lama, namun belum lupa karena pesan ini pada selanjutnya sering disampaikan oleh beliau sehingga membuat kesan yang cukup mendalam. Pada saat itu kami tinggal di sebuah pedesaan dengan penduduk yang masih kuat memegang kultur keagamaan, sehingga dalam memberikan pemahaman beliau mencontohkan bahwa orang pintar itu diantaranya adalah seorang kiyai – seorang tokoh agama yang ada di desa kami. Bagi seorang anak SMP, tentu saja pesan ini tidak sepenuhnya dimengerti dan tidak langsung bisa dilaksanakan. Perasaan yang dirasakan, jangankan untuk bertanya kepada pak kiyai, berdekatan dengannya saja rasanya sudah malu.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya kemudian memahami makna dari pesan ini dan mencoba mempraktekannya ketika secara kebetulan sedang bersama-sama dengan orang pintar. Makna terdalam dari pesan ini bahwa hakikatnya setiap orang memiliki kedudukan yang sama, oleh karena itu kita tidak boleh minder kepada siapapun. Pemahaman akan makna orang pintar-pun meluas, setelah kami pindah dari sebuah pedesaan dengan penduduk yang homogen dan masih kuat memegang kultur keagamaan ke sebuah wilayah dengan penduduk yang heterogen. Orang pinter tidak lagi dipahami hanya sebatas seorang kiyai semata, tetapi juga termasuk siapa saja yang berpikiran bijak.

Ketika berada bersama dengan orang pintar dan mencoba untuk bertanya kepada mereka, selalu ada hal yang diperoleh dari peristiwa ini. Selain kita memperoleh ilmu, ada hal lain yang juga kita peroleh dalam proses itu, diantaranya tentang strategi. Pengalaman seperti ini misalnya terjadi ketika pada hari itu saya bertemu dengan mantan dosen pembimbing tesis saya – salah satu dari sekian orang pintar yang pernah saya jumpai.

Saat itu, kami berada pada sebuah tempat dan sedang menunggu acara rapat kerja dimulai, dimana kami secara kebetulan sama-sama menjadi pesertanya. Kepada ibu dosen, saya bertanya tentang kabar dan aktivitasnya. Pertanyaan saya ditanggapi secara baik, tetapi tidak ada tanda-tanda antuasias yang terlihat pada senyuman manis ibu dosen. Selama sepuluh menit ibu dosen hanya mengucapkan kata-kata yang cukup singkat, dengan sikap yang ramah ia lebih banyak mendengarkan. Karena saya yang lebih banyak ngomong, kondisi ini membuat saya merasa keki.

Pada saat saya hampir kehilangan bahan obrolan, saya melontarkan pernyataan yang agak keliru. Saat itu saya mengatakan tentang sebuah hasil penelitian. Ibu dosen segera memotong pernyataan saya, dengan mengatakan sebuah hasil-hasil peneltian yang lebih up to date. Akhirnya dengan panjang lebar ibu dosen bercerita, yang dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan semangat. Minat besar terhadap topik yang beliau bicarakan terpancar dari sinar matanya dibalik kaca mata yang bening yang dipakainya. Saking senangnya, hingga akhirnya beliau memberikan beberapa jurnal tanpa saya minta.

Dari peristiwa di atas, terungkap bahwa walaupun orang pintar itu senang kalau ditanya, namun mereka akan menjadi lebih senang lagi jika perihal yang ditanyakan adalah yang merupakan minatnya. Strategi bertanya kepada orang pintar seperti di atas, menurut saya juga dapat diterapkan kepada lawan bicara kita yang lainnya. Untuk itu, dengan mencari minat apa yang dapat membuat lawan bicara kita menjadi bersemangat, dapat diterapkan ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang pelit berbicara.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

7 thoughts on “Berhadapan Dengan Orang yang Pelit Berbicara

  1. Saya selalu kagum sama org2 pintar, tpi saya cuman bsa bergumam, “Kapan ya saya seperti dia??”😀

    Salam hangat dari Pulau Lombok mas..🙂

    Posted by Nyoman CNd | 18 Juni 2012, 21:17
  2. memang percakapan akan lbh nyambung kalau berhubungan dgn minta orang itu ya mas, terutama bg org yg nggak byk bicara

    Posted by Ely Meyer | 2 Juni 2012, 04:44
  3. masukan yang berharga nich mas Noer…🙂
    sukses slalu ya !

    Posted by bensdoing | 1 Juni 2012, 17:49
  4. Halo mas, kunjungan balik nih.
    saya sudah lama tidak membuka blog & jarang posting😦

    Posted by Adesepele™ | 1 Juni 2012, 09:58
  5. sekedar berkunjunga balik dan lihat-lihat postingan mas noer yang selalu bermamfaat hehhee
    wahhh dengan template the morning after blog mas noer jauh lebih kerren hehehe

    Posted by blumbungannews | 1 Juni 2012, 02:17
  6. Benar kata yg di atas , mengorek latar belakang nya cara tepat .

    Posted by Tiiand | 31 Mei 2012, 22:49
  7. dan untuk mengetahui minatnya sepertinya kita harus sedikit berusaha ‘mengorek’ latar belakangnya deh😀

    Posted by Red | 31 Mei 2012, 16:32

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: