Konservasi Alam

Tahapan Pelaksanaan FPIC REDD+ Sulawesi Tengah

Untuk memastikan mandat kesepakatan internasional yang mewajibkan pelaksanaan skema REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degredation Plus) memenuhi hak masyarakat adat dan atau masyarakat lokal, maka pemenuhan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia untuk menjadi instrumen yang digunakan pada program ini salah satunya melalui penerapan  instrument Free and Prior Informed Consent (FPIC) atau Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA).

FPIC atau PADIATAPA secara garis besar dikelompokkan menjadi 3 (tiga) tahap, yaitu: prakondisi, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan. Menurut Draft Panduan Pelaksanaan FPIC REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah (2012), yang disusun secara kolektif oleh tim FPIC dari Sub Kelompok Kerja IV REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah, yang berasal dari unsur akademisi, pemerintah, masyarakat adat/lokal, NGO dan APHI. Uraian dari setiap tahapan dijelaskan sebagai berikut:

Pra Kondisi FPIC

Kegiatan ini merupakan kegiatan awal yang dilakukan untuk mendapatkan dan menyiapkan informasi awal terkait komunitas masyarakat adat dan lokal, instrument yang akan digunakan, serta calon fasilitator. Tahapan pra kondisi meliputi: Pertama, Sosialisasi Program. Kegiatan sosialisasi program ini dilakukan oleh project proponent, untuk memberikan gambaran umum tentang program. Kedua, Identifikasi Komunitas Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal. Kegiatan identifikasi masyarakat adat dan atau lokal penting dilakukan sebagai langkah awal dalam memperoleh gambaran keberadaan masyarakat, informasi pemangku kepentingan yang harus dilibatkan, serta perwakilan dalam semua proses. Identifikasi dilakukan oleh fasilitator terpilih. Jenis data, metode identifikasi dan pelaksana di tingkat lapangan disajikan dalam Tabel 1.

Ketiga, Penyusunan Instrument (komponen komunikasi). Penyusunan instrument didasarkan pada hasil identifikasi komunitas adat dan masyarakat lokal. Hal ini dimaksudkan agar instrument yang akan digunakan sesuai dengan karakteristik masyarakat sasaran (kemampuan baca-tulis; penguasaaan bahasa; dan budaya yang dimiliki masyarakat). Instrument yang dapat digunakan (dipilih), antara lain: leaflet, film,  brosur,  buku bacaan, poster dsb. (4) Identifikasi calon fasilitator, di dalam panduan ini, fasilitator merupakan orang yang bertugas membantu anggota kelompok berinteraksi secara nyaman, konstruktif, dan kolaboratif sehingga kelompok dapat mencapai tujuannya (Kaner 2007). Fasilitator lapangan/pendamping bersifat independen, diterima dan berkompeten untuk bekerjasama dengan semua pihak. Selain itu fasilitator memahami tentang defenisi desa, masyarakat adat dan masyarakat lokal, sehingga fungsi pendamping sebagai katalisator proses pelaksanaan FPIC dapat berjalan dengan baik. Untuk mendapatkan seorang fasilitator yang sesuai dengan tujuan kegiatan, perlu ditetapkan beberapa kritiria, di antaranya: (1) Memiliki komitment dan motivasi kuat dalam memfasilitasi proses FPIC; (2) Paham tentang calon lokasi (lingkungan, sistem nilai dan budaya masyarakat dan bahasa lokal); (3) Dapat diterima oleh masyarakat sasaran, dan berkompeten untuk bekerjasama dengan semua pihak; (4) Bersedia tinggal di lokasi selama pelaksanaan uji coba FPIC; (5) Usia minimal 25 tahun dan dengan mempertimbangkan gender; (6) Tidak terikat dengan kontrak kerja yang lain.

Keempat, Peningkatan Kapasitas (Capacity Building). Kegiatan ini meliputi peningkatan pemahaman pemangku kepentingan, termasuk fasilitator lapang melalui kegiatan workshops, pelatihan dan penyebaran informasi.  Kegiatan peningkatan pemahaman ini dilakukan agar informasi yang diberikan konsisten, seragam, lengkap dan jelas.

Pelaksanaan FPIC

Kegiatan ini meliputi kegiatan sosialisasi substansi dan prosedur, proses pemahaman masyarakat dan pengambilan keputusan oleh masyarakat. Dengan uraian sebagai berikut: Pertama, Sosialisasi Substansi dan Prosedur. Kegiatan sosialisasi dimaksudkan untuk memberikan informasi secara rinci tentang REDD+ dan FPIC. Selain itu, melalui kegiatan ini disampaikan pula mengenai prosedur (mekanisme komplain dalam tahapan FPIC dan alur kerja REDD+). Sasaran sosialisasi tentang REDD+ dan FPIC adalah para pemangku kepentingan yang ada di calon lokasi DA.

Kedua, Proses Pemahaman Masyarakat Terhadap Program. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman masyarakat terhadap program. Proses ini dilakukan melalui focus group discussion (FGD), penyebaran leaflet, brosur, cergam, film animasi, dan media pendukung lainnya yang relevan. Kegiatan ini dilakukan agar informasi yang diberikan konsisten, seragam, lengkap dan jelas. Hal-hal yang dikomunikasikan kepada masyarakat antara lain:  (1) program yang akan dilaksanakan; (2) manfaat dan dampak yang akan diterima oleh masyarakat adat dan atau lokal; (3) peran masing-masing stakeholders; (4) mekanisme komplain. Waktu yang dibutuhkan dalam setiap tahapan tersebut sangat tergantung pada tingkat pemahaman dan adaptasi masyarakat adat dan atau lokal, sehingga dapat menjawab free, prior dan inform. Setiap tahapan kegiatan didampingi oleh fasilitator terpilih, yang berperan sebagai katalisator untuk bekerjasama dengan pihak lokal dan project proponent.

Ketiga, Pengambilan Keputusan Masyarakat. Pengambilan keputusan oleh masyarakat bersifat fleksibel berdasarkan tradisi yang berlaku pada masyarakat adat dan atau lokal. Tahap ini akan menjawab komponen consent dalam FPIC, dimana semua perwakilan masyarakat adat dan atau lokal yang terpilih akan mengambil keputusan terkait peran, tanggungjawab, manfaat yang diterima, dan dampak yang akan ditimbulkan, serta sejumlah opsi lainnya. Pada tahap ini, termasuk diantaranya menyetujui pembentukan tim penanganan komplain, yang berasal dari unsur-unsur independent.

Tahap Pasca FPIC

Kegiatan pada tahap ini dimaksudkan untuk memastikan keputusan yang telah disepakati dapat dijalankan dan memberikan jaminan bahwa kesepakatan-kesepakatan yang telah dibangun tidak dilanggar oleh pihak-pihak yang bersepakat. Bentuk kegiatan ini meliputi monitoring, evaluasi dan penanganan komplain yang dilakukan oleh pihak independent. Pertama, Tahap Verifikasi. Kegiatan verifikasi dimaksudkan untuk memeriksa dan menilai apakah semua proses FPIC sudah dilalui sesuai dengan prinsi-prinsip FPIC dan segala tahapan pelaksanaan dalam aktifitas program REDD+. Tim verifikasi beraal dari pihak independent, berasal dari unsur masyarakat, project proponent dan kelompok kerja REDD+. Kedua, Tahap Sosialisasi Hasil. Setiap tahapan FPIC (proses dan pengambilan keputusan) perlu disoalisasikan kepada seluruh komponen masyarakat yang akan terkena dampak, termasuk stakeholder di tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi. Ketiga, Tahap Penanganan Komplain. Tahap ini dipersiapkan untuk menangani kompalin dari masyarakat terhadap project proponen. Beberapa hal penting dalam menangani komplain tersebut diantaranya sesuai prinsip diantaranya: keterjangkauan oleh masyarakat, independensi, transparansi pengelolaannya, efektif dalam memberikan respon.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

2 thoughts on “Tahapan Pelaksanaan FPIC REDD+ Sulawesi Tengah

  1. Tahap awal pra kondisi FPIC menjadi awal keberhasilan implementasi REDD ya Pak, salam

    Posted by prih | 22 Juni 2012, 16:17
  2. semoga lancar2 saja, tidak ada konflik yang menghalangi

    Posted by sakti | 21 Juni 2012, 20:53

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: