Konservasi Alam

Alam Sebagai Anugerah Sekaligus Ancaman

Semua orang dipastikan akan setuju bahwa petani adalah salah seorang yang berjasa terhadap penyediaan pangan yang dibutuhkan oleh kita. Namun demikian, pada saat kita sedang makan, apakah pernah kita berpikir tentang bagaimana pergumulan petani dalam menghasilkan tanaman yang merupakan sumber makanan yang kita nikmati setiap hari? Mungkin ada, tetapi lebih banyak orang yang tidak berpikir demikian.

Pada tataran konsumen, seperti kebanyakan orang apalagi yang tinggal di perkotaan, bahan pangan dapat mereka peroleh secara mudah dengan cukup membeli di warung-warung atau di toko-toko yang menjual bahan tersebut. Yang penting mereka punya uang. Sebaliknya, petani yang memproduksi bahan pangan, bersusah payah mulai dari mengolah tanah untuk kemudian bercocok tanam, dan harus mememelihara tanaman agar bisa berbuah dengan harapan bisa dipanen. Walau tanaman sudah dipelihara dengan baik, tidak jarang petani harus menghadapi kegagalan panen. Kondisi alam yang tidak mendukung seringkali menjadi penyebab dari kenyataan pahit petani di atas.

Bagi petani, daya topang alam sangat berpengaruh terhadap pertanian yang menjadi tumpuan hidup matinya. Greg. Soetomo (1997) menggambarkan bahwa, tanah mengambil peranan dalam menyediakan unsur-unsur makanan dan melayani tumbuhan sebagai tempat berpegang dan bertumpu agar dapat berdiri tegak. Ketersediaan air bagi tanaman bergantung pada peranan tanah sebagai reservoir; sementara air mengambil bagian yang sangat penting dalam proses fisiologi tanaman. Lalu kerja air untuk tanaman pun sangat dipengaruhi oleh suhu, gerakan udara dan radiasi sinar matahari, yang semuanya merupakan bagian dari alam dan acap kali semuanya diberikan secara cuma-cuma. Interaksi itu misalnya terjadi dalam radiasi sinar matahari yang memberikan energi yang diperlukan untuk mengubah keadaan air dari bentuk cair ke bentuk uap. Proses pendidihan air inilah yang bertanggung jawab atas penyebaran sebagian besar energi yang diterima tumbuhan dan matahari.

Realitas di atas menunjukan betapa rapuh keberadaan tanaman di tengah kondisi alam. Karena, apabila salah satu unsur alam dalam kondisi tidak berimbang, maka proses fisiologia dalam tanaman akan terganggu dan akibatnya pertumbuhan tanaman akan menjadi terganggu atau bahkan tanaman bisa menjadi mati. Contoh yang diberikan oleh Greg. Soetomo (1997) misalnya, suhu yang ekstrem mempengaruhi secara nyata proses-proses biokimia, seperti respirasi, fotosintesis, masa dormansi, pembungaan, dan pembentukan buah. Unsur-unsur alam merupakan fakta yang hampir-hampir tidak terpahami oleh petani. Wabah, hama penyakit, hujan yang terus menerus, banjir yang melanda, seperti halnya suhu udara yang ekstrem tinggi maupun rendah mampu menghancurkan dalam sekejap tanaman mereka.

Demikianlah, dalam kenyataannya alam tidak selalu bersahabat dengan manusia. Kondisi ini tidak jarang diawali oleh sikap manusia yang terlebih dahulu tidak bersahabat dengan alam. Kerap kali kita tidak peduli terhadap kelestarian alam yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita.

Semoga, ke depan kita bisa lebih peduli dalam melestarikan alam.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

8 thoughts on “Alam Sebagai Anugerah Sekaligus Ancaman

  1. Salam Kenal Untuk Semuanya Yaa…🙂

    Posted by jaka | 27 Juni 2012, 15:38
  2. petani di sana beda dengan petani di sini mas

    Posted by Ely Meyer | 25 Juni 2012, 20:34
  3. perlunya sinergi gerak alam dengan manusia ya, sejatinyalah pertanian industri energi terdahsyat memanen energi surya, memadu energi kimia dari tanah menjadi hasil panen. Salam

    Posted by prih | 24 Juni 2012, 13:30
  4. Petani menghadapi resiko dan menanggungnya. Sementara konsumen hanya mau produk sesuai harga yang mereka bayar..Dari sini saja sudah terlihat ada ketidak adilan dalam sistem pertanian ya Mas Noer?

    Posted by Evi | 23 Juni 2012, 23:36
  5. Tapi dijaman skrg ini, petani jg trkadang brfikir sempit, “mereka” membuka lahan dgn seenaknya yg menyebabkan pengurangan jmlah luas hutan di indonesia jg dengan sangat ekstrim, bila yg melakukannya adalah petani kecil mngkin kita bsa memakluminya krna alasan perut, bagaimana klw yg melakukannya pengusaha2 kelas menengah keatas?? commentnya kpanjangan ya pak😀
    oya, knpa animasi flash diatas gk dibuatkn link taut keblog sndiri wktu bkinnya pak? coba diklik, psti nujunya ke 123 slideshow

    Posted by Nyoman CNd | 23 Juni 2012, 19:41
  6. Setuju sekali dengan artikel Pak Noer…. seakan profesi petani itu bukan sesuatu yg hebat seperti profesi dokter, guru, karyawan,pns, padahal mereka lah yg memberi makan kepada kita semua.

    Petani ku sayang.. petani ku malang…

    Posted by Marchei Riendra | 23 Juni 2012, 17:09

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: