Bangga Terhadap Produk Rotan Lokal

Bangga menggunakan produk rotan lokalMasyarakat Indonesia telah terbiasa menggunakan rotan sejak lama. Ungkapan populer yang menyiratkan bahwa penggunaan rotan telah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah โ€˜tidak ada rotan akar pun berguna’. Mendengar ungkapan ini, barangkali orang akan mengartikannya dalam konteks fungsi rotan sebagai tali (bahan pengikat). Pengertian seperti ini boleh-boleh saja, walaupun sebenarnya kurang tepat. Sesungguhnya, sejak dulu masyarakat Indonesia mengenal rotan, bukan hanya sebatas sebagai tali semata, tetapi juga digunakan hampir di semua segi kehidupan seperti untuk konstruksi rumah, perabot rumah, jembatan, keranjang, tikar, dll.

Saat ini, penggunaan rotan yang masih dapat kita jumpai diantaranaya untuk perabot rumah, keranjang dan tikar. Walaupun jumlah pengunaan produk berbahan baku rotan oleh masyarakat jauh lebih rendah, jika dibandingkan dengan penggunaan produk berbahan baku non rotan, seperti kayu; besi; plastik atau yang lainnya.

Bagi para pengguna produk berbahan baku rotan, pilihan mereka membeli produk rotan tidak hanya dikarenakan harga yang relatif murah semata-mata, tetapi juga dikarenakan rasa kebanggan terhadap produk warisan budaya bangsa. Gambaran seperti ini setidaknya terlihat di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Di kota ini, masyarakat yang menggunakan produk berbahan baku rotan seperti kursi rotan, umumnya memiliki selera menempatkan kursi rotan di teras rumahnya.

Teras rumah merupakan area semi publik, mengingat perabot rumah yang disimpan di area ini dapat dilihat oleh tetangga atau orang yang lewat di depan rumah kita. Namun, tidak sembarang orang bisa masuk pada area ini karena halaman rumah biasanya dipasangi pagar, atau kalaupun tidak di pagar orang relatif sungkan untuk berada di teras rumah kita tanpa urusan yang jelas.

Dengan menempatkan kursi rotan di teras rumah, mengindikasikan kursi rotan tidak hanya difungsikan sebagai tempat duduk semata, tetapi juga difungsikan sebagai aksesories rumah yang memiliki nilai estetika. Dengan kursi rotan, mereka bisa menghiasi rumahnya menjadi kelihatan lebih indah dan asri. Mereka percaya diri dan bangga memperlihatkan kursi rotan sebagai perabot rumahnya kepada tetangga atau orang yang lewat di depan rumahnya.

Nilai estetik ini jugalah, yang kemungkinan menjadi inspirasi pembuatan kursi plastik impor bermotif rotan. Mereka menggunakan model dan motif rotan, dikarenakan ingin menciptakan kesan estetik dan alami sebuah kursi. Saat ini kursi rotan plastik telah banyak di pasar-pasar. Namun, tentu saja citra estetik kursi rotan yang aseli tidak akan mudah tertandingi.

Kerajinan rotan merupakan budaya aseli Indonesia, seperti halnya budaya kerajinan batik. Karena itu, bagi kita yang cinta budaya bangsa Indonesia disarankan tidak membeli produk kursi rotan impor berbahan sintesis. Semoga kita termasuk orang yang bangga menggunakan produk warisan budaya nenek moyang kita.

Iklan

24 responses to “Bangga Terhadap Produk Rotan Lokal

  1. Sumber bahan baku rotan yang utama berasal dari Sulawesi khususnya Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah dan Aceh. Sementara industrinya terpusat di Pulau Jawa khususnya di Cirebon, Solo dan Surabaya. Produknya berupa meubel dan kerajinan hampir 100 % untuk eksport. Produk rotan sangat diminati di eropa, Amerika dan Jepang, entah berapa berapa nilai jual produk rotan di luar negeri. Saat ini kebutuhan bahan baku untuk industri di pulau Jawa membutuhkan puluhan ribu ton setiap bulannya. Bisa dibayangkan ekploitasi bahan baku rotan akan menjadi masalah kalau tidak dibarengi dengan upaya budidaya. siapa yang lebih bertanggung jawab atas pelestarian rotan Indonesia. ???

  2. Hidup ane katanya berantakan om ditambah rambut ane,, tapi kalo udah baca artikel kok berubah jadi rapi yaaa.. Hehehe.. ๐Ÿ˜›

  3. sepertinya industri rotan nasional setelah bertahun-tahun kurang ada inovasi juga pak…sekarang malah negara tetangga bisa pakai tanaman hama (enceng gondok) yang sudah di proses…
    mungkin dengan peningkatan kualitas wisuda, kita bisa lebih innovatif =)

    voucher hotel murah

  4. Indonesia memang kaya SDA-nya…
    Cuma sayang SDM-nya masih jauh tertinggal dengan negara maju lainnya pak … ๐Ÿ˜‰

  5. Masih inget dulu waktu Bapak saya beli kursi rotan, harganya lumayan mahal karena rotan memang susah nyarinya..
    Sekarang kayaknya malah tambah makin sulit nyarinya..

  6. Pak Noer tuk keseimbangan populasi oleh laju pengambilan, bagaimana dengan budidaya secara terencananya, sokur berkenan sharing via postingan. Salam

  7. Kalau di Jawa, rotan sulit di dapat pak..
    Kalaupun ada kursi dan meubel dari bahan rotan, harganya pasti sangat mahal, mungkin karena bahan yang langka juga termasuk kerajinan yang unik.

  8. Sayangnya rotan kini semakin langka ya Mas Noer..Rotan kebanyakan juga dijual sebagai bahan mentah, dan ketika produk yg telah memiliki nilai tambah balik ke tanah air dengan harga mahal. Mengingat kelangkaannya hal yang beginian mestinya di kurangi. Kita jual rotan hanya ketika sdh memiliki nilai tambah, seperti foto diatas..

  9. sudah semestinya kita memakai dan bangga trhadap rotan lokal…dirumah ada kursi asli buatan rotan makassar…cukup futuristik juga tdk kalah dgn yg ada di toko

  10. Di kota saya Cirebon, salah satu komoditi yang terkenalnya adalah kerajinan rotan. Dulu sekitar 15-20 tahun yang lalu banyak sekali pabrik rotan dan pengrajin rotan yang ada di kota ini. Sayangnya sekarang banyak pabrik rotan yang bangkrut, entahlah saya gak paham kenapa bisa begitu. Begitupun pengrajin rotan, udah gak sebanyak dulu lagi.

  11. jadi teringat waktu SD di takalar sulsel, SDnya inpres paririsi, kalau ada murid bersalah, hukumannya cambuk pakai rotan. Yang nyambuk gak tanggung2, langsung kepala sekolahnya ๐Ÿ™‚ #kenangan tak terlupakan

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s