Konservasi Alam

Interaksi Masyarakat di Tahura Sulteng

Diskusi Panduan FPIC REDD+ SultengTaman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah memiliki luas 7.128 Ha, terletak di lintas antara Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Beberapa kelurahan dan desa keberadaannya berbatasan langsung dengan Tahura. Dikarenakan letak Tahura yang berbatasan langsung dengan beberapa wilayah desa, mengakibatkan kawasan konservasi ini tidak terbebas dari interaksi masyarakat yang ada disekitarnya. Secara umum terdapat dua pola interaksi yang dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi Tahura, yaitu: pola penggunaan lahan dan pola pemanfaatan hasil hutan.

Pada pola penggunaan lahan, interaksi masyarakat dengan kawasan Tahura yang sangat berpengaruh adalah aktivitas pembukaan kawasan menjadi lokasi penambangan emas dan sebagai lahan pertanian. Telah lebih lebih dari lima tahun, aktivitas penambangan tanpa ijin terjadi di dalam kawasan Tahura. Selain merusak kawasan, dampak negatif lainnya akibat aktifitas penambangan  diantaranya terjadinya pencemaran air dan tanah akibat penggunaan bahan kimiawi dalam proses pengolahannya. Bagi masyarakat luas, penggunaan bahan kimiawi yang berbahaya ini dikhawatirkan mencemari air ledeng (PDAM), mengingat sumber airnya berasal dari sekitar kawasan ini.

Untuk aktivitas penggunaan kawasan sebagai lahan pertanian, dilakukan dengan membuka kawasan untuk menanam komoditi palawija. Masyarakat yang memiliki lahan, pengelolaannya dilakukan sendiri oleh mereka. Hasil panen dari tanaman palawija ini umumnya digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kehidupan sehari-hari rumah tangga mereka, selebihnya jika hasil berlebih baru mereka jual.

Sedangkan interaksi masyarakat dengan sumber daya hutan yang dikelompokan dalam pola pemanfaatan hasil hutan, diantaranya dilakukan melalui pemanfaatan sumber mata air, mengambil kayu bakar, kayu arang, buah durian, rotan, kemiri, tangkai buah aren, ular sawah, ayam hutan, kura-kura, bambu, sarang burung walet, rusa, anggrek, dan kembang berdoa.

Pemanfaatan hasil hutan di kawasan Tahura merupakan wujud dari aktivitas sosial ekonomi masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika pemanfaatan hasil hutan tidak dilakukan dengan bijak dan tidak terkendali, maka akan berpengaruh negatif terhadap keberadaan Tahura.

Beberapa pemanfaatan hasil hutan yang dapat berpengaruh terhadap keberadaan kawasan Tahura, yaitu pada praktek pengambilan kayu sebagai bahan baku pembuatan arang dan pengambilan rotan. Dalam mengambil kayu untuk pembuatan arang, seringkali kayu yang masih berukuran kecil pun diambil. Praktek yang sama juga dialami saat pengambilan rotan, para pencari rotan seringkali menebang pohon tempat merambat rotan, baik yang masih berukuran kecil maupun besar untuk mempermudah pengambilan rotan. Pengaruh negatif juga akan timbul pada pemanfaatan hasil hutan lainnya, manakala pemanfaatannya tidak dilakukan dengan bijak.

Dalam sebuah pertemuan yang dilakukan pada April 2013, masyarakat sekitar Tahura mengungkapkan bahwa kerusakan hutan perlu dikendalikan. Masyarakat menyadari bahwa pengolahan kayu akan menimbulkan permasalahan, mulai dari permasalahan hukum hingga masalah kerusakan lingkungan seperti longsor.

Beberapa kali bencana longsor walaupun tidak sampai ke pemukiman, namun dampaknya sering merusak jalan desa, hingga transfortasi masyarakat yang akan keluar desa menjadi terganggu. Ke depan, tidak menutup kemungkinan, jika bencana longsor dapat berdampak merusak perumahan penduduk.

Sumber mata air dari dalam kawasan hutan yang selama ini digunakan oleh masyarakat sebagai air bersih dengan mengalirkan ke rumah-rumah, debit airnya semakin berkurang. Begitu juga debit air dari sungai yang semakin mengecil. Kondisi ini menghawatirkan masyarakat, mengingat mereka memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sawah, makan dan minum ternak, dll.

Tahura merupakan kawasan pelestarian alam yang ditetapkan untuk tujuan koleksi tumbuh-tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau bukan alami, dari jenis asli atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan/atau satwa, budaya, pariwisata, dan rekreasi. Agar Tahura dapat tetap berperan sebagaimana fungsinya, maka upaya pelestarian Tahura perlu mendapat dukungan dari masyarakat sekitar, dengan melakukan pemanfaatan hasil hutan secara bijak dan bertanggung jawab.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: