Konservasi Alam

Ombo: Kearifan Lokal di Sekitar Lore Lindu

tnll - toroMasyarakat yang mendiami wilayah di sekitar Taman Nasional Lore Lindu terdiri dari beberapa etnis, yang dikelompokan sebagai Penduduk Bada, Behoa, Pekurehua dan Kaili. Penduduk Bada merupakan penduduk yang mendiami wilayah di sekitar Lembah Bada yang berada di bagian selatan Taman Nasional Lore Lindu. Penduduk Behoa tinggal di enclave Behoa yang terletak di sebelah selatan Lembah Napu. Penduduk Pekurehua dikenal juga sebagai Penduduk Napu, Watumaeta, Wuasa, Kadua’a, Wanga, dan Watutau berada di sepanjang perbatasan sebelah timur. Sedangkan Penduduk Kaili terdapat di sebelah barat Taman Nasional Lore Lindu.

Dalam perkembangannya, interaksi penduduk yang tidak hanya dilakukan dengan sesama etnik yang sejak awal mendiami wilayah sekitar Taman Nasional, tetapi juga dengan etnik pendatang seperti Bugis, Toraja, Menado, Jawa, dan Bali. Interaksi sosial ini menyebabkan penduduk menjadi bercampur dengan para pendatang dan keturunannya. Beberapa sumber menyatakan, bahwa pada saat ini sudah tidak mudah lagi menjumpai wilayah di sekitar Taman Nasional Lore Lindu yang masih dianggap berpenduduk homogen secara etnis.

Terhadap pola pemanfaatan sumber daya hutan, penduduk asli menggantungkan hidupnya dari mengambil hasil hutan sebagai mata pencahariannya, seperti berburu, mencari rotan, damar secara subsisten. Ketergantungan penduduk asli terhadap hutan sangat besar dan sulit untuk terlepas dari pola tradisional yang sudah turun-temurun.  Namun, penduduk asli umumnya masih menaruh perhatian terkait dengan kelestarian hutan melalui aturan-aturan adat yang berlaku di wilayahnya. Salah satu contoh aturan adat yaitu Ombo, dimana penduduk berhenti mengambil salah satu sumber daya alam dan dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan penduduk pendatang, dalam melakukan pemanfaatan sumber daya alam lebih beorientasi pada memaksimalkan kepentingan ekonomi, melalui pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan sistem pemanfaatan hasil pertanian dan hasil hutan.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa penduduk asli lebih bisa memandang pengelolaan sumber daya alam secara lestari dibandingkan pendatang. Kecuali, jika kelak penduduk asli pun sudah tidak lagi mematuhi aturan Ombo. Untuk itu, upaya mempertahankan nilai-nilai aturan adat, akan berpengaruh terhadap upaya pelestarian hutan.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

One thought on “Ombo: Kearifan Lokal di Sekitar Lore Lindu

  1. Hmmm . baru ngerti ttg Ombo mas, salut juga pada penduduk asli ya di sana ya yg msh bisa puny aperhatian menyangkut pelestarian alam

    Posted by duniaely | 20 Mei 2013, 15:31

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: