Konservasi Alam

Sore Hari di Pantai Malala

DSC06524Seringkali kita mendengar ungakapan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya. Ungkapan ini dipastikan ngawur jika bermaksud menggambarkan kekayaan dari aspek ekonomi. Kemungkinan kita akan setuju jika ungkapan ini dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang besarnya potensi alam yang tersebar di banyak wilayah. Sebagian besar dari kita juga akan sepakat jika kekayaan potensi alam yang tersebar di banyak wilayah tersebut semestinya dikelola secara bijak agar dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar secara berkelanjutan.

Besarnya potensi alam di antaranya tergambar dari luas laut dan panjang pantai di banyak wilayah. Laut menyimpan keragaman biota, sedangkan pada pantai umumnya terdapat ekosistem mangrove. Mangrove yang oleh masyarakat lebih populer disebut dengan hutan bakau, merupakan salah satu potensi alam yang juga berfungsi sebagai daerah pelindung daratan dari erosi oleh ombak. Hutan bakau ini juga menjadi tempat pembesaran anakan ikan dan udang serta menjadi tempat hidup kepiting, kerang dan biota laut lainnya.

Sore itu, karena tertarik dengan tawaran Pak Kades tentang potensi hutan mangrove dan terumbu karang yang ada di desanya, kami bersama dengan Pak Kades menumpang sebuah perahu.  Tetesan gerimis yang membasahi rambut, tidak menyurutkan laju perahu yang ditumpangi oleh kami menyusuri birunya air laut di antara lebatnya hutan mangrove.

Desa tempat Pak Kades memimpin ini bernama Malala. Salah satu desa di Provinsi Sulawesi Tengah yang berada di pinggiran laut. Secara administratif Desa Malala berada di Kecamatan Dondo – Kabupaten Tolitoli. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan (Desa Tinabogan) yaitu 2 km, yang ditempuh dengan jalan darat. Dengan ketinggian 0 – 15 meter dari permukaan laut.

Desa ini berada di sebuah teluk, dan memiliki topografi pantai bergelombang dengan jenis ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang. Dengan pemandangan alam yang indah, masyarakat juga ingin mengembangkannya sebagai lokasi ekowisata.

Disamping berbatasan dengan laut, wilayah Desa Malala secara fisik juga berbatasan dengan kawasan hutan, dimana sebagian masyarakatnya melakukan interaksi dengan kawasan hutan tersebut.

Keberadaan hutan bakau yang terjaga serta ekosistem daerah aliran sungai yang bermuara ke teluk terpelihara dengan baik, akan dapat membuat ikan dan biota laut lainnya berkembang, sehingga menjadi potensi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar secara berkelanjutan.

Desa Malala: Beberapa rumah penduduk di salah satu dusun

Desa Malala: Beberapa rumah penduduk di salah satu dusun

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

4 thoughts on “Sore Hari di Pantai Malala

  1. semakin rindu dengan malala setelah melihat postingan ini,😥

    Posted by irmawati mulyamin | 3 Juli 2016, 19:23
  2. Mampir lagi nih ke blognya kang Noer, setelah lihat pemberitahuan FB pagenya ganti nama, dan ternyata ada roman2 berbau pantai nih🙂 potensi alamnya yang kaya ya?
    salam persahabatan….

    Posted by Moch Adnan | 31 Mei 2013, 17:22
  3. Sdr Noer. Terimakasih postingannya. Telah memberikan pencerahan kepada saya betapa pentingnya mengabadikan keindahan alam dari momen-momen perjalanan anda. Salam hangat saya dari Nias Selatan

    Posted by Andy Batee | 28 Mei 2013, 19:01
  4. Sulawesi, selalu indah. .
    kapan ya saya dapat menginjak Sulawesi.🙂

    Posted by Idah Ceris | 28 Mei 2013, 18:58

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: