Kontemplasi

Kesepakatan Batu Tulis Cukup Menggelitik

Picture1Menjelang pelaksanaan pemilihan legislatif yang tinggal beberapa hari lagi, pemberitaan tentang peristiwa politik banyak menghiasi halaman media massa baik media cetak; media tv; ataupun media online. Nyaris setiap hari kita memperoleh suguhan hiruk pikuk pemberitaan politik ini, bahkan bagi yang tidak suka politik sekalipun. Dari sekian banyak suguhan berita politik, salah satu yang cukup menggelitik keingintahuan saya adalah berita mengenai Perjanjian Batutulis.

Perjanjian Batutulis merupakan kesepakatan antara PDIP dengan Partai Gerindra yang dilakukan pada Tahun 2009 lalu. Dalam pejanjian ini, konon di antaranya menyepakati mengenai dukungan Megawati Soekanoputri terhadap Prabowo Subianto pada pemilihan presiden Tahun 2014.

Persoalannya, untuk pemilihan presiden Tahun 2014 ini, Megawati Soekanoputri tidak mendukung pencalonan Prabowo Subianto, melainkan Jokowi. Sehingga, pengungkapan Perjanjian Batutulis oleh Elit Partai Gerindra menjadi ramai, apalagi setelah mendapat tanggapan dari Elit PDIP. Masing-masing memiliki argumentasi dan penafsiran yang berbeda dalam memandang Perjanjian Batutulis. Para Elit PDIP berpandangan bahwa karena pada Tahun 2009 pasangan Megawati Soekanoputri-Prabowo Subianto tidak lolos menjadi presiden dan wakil presiden, maka Perjanjian Batutulis tidak berlaku di Tahun 2014 ini. Sedangkan para Elit Partai Gerindra berpandangan sebaliknya.

Walau saya merupakan salah satu dari sekian pemilih yang awam terhadap dunia politik, namun perbedaan tafsir para elit dari dua partai ini sempat cukup menggelitik keingintahuan saya – faktanya saya yang biasanya tidak begitu berminat terhadap berita politik, sempat menyisihkan waktu untuk sekedar browsing mencari tahu ‘kayak apa sih isi perjanjian itu?’. Hasilnya, melalui mbah google saya mendapatkan file (atau foto) mengenai perjanjian atau tepatnya kesepakatan bersama antara PDIP dengan Partai Gerindra.

Setelah membaca isi kesepakatan itu saya hanya bisa komentar ‘oh ternyata begitu toh!’, saya tidak lihai untuk kemudian terlalu jauh menafsirkan makna dari butir pejanjian itu. Namun demikian, paling tidak saya sebagai salah satu dari sekian pemilih yang awam terhadap dunia politik, telah berusaha untuk mencerahkan diri-sendiri dengan mencari tahu mengenai salah satu isu politik yang lagi banyak dibicarakan di publik.

Semoga perpolitikan di negeri kita tecinta ini semakin cerdas dan mencerahkan…

Foto: JPNN.com

Foto: JPNN.com

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

4 thoughts on “Kesepakatan Batu Tulis Cukup Menggelitik

  1. lucu memang. Seolah negara ini milik segelintir elit. Padahal yang berdaulat adalah rakyat. Silahkan saja mau buat perjanjian batu tulis kek, batu ginjal kek, batu bata kek. yang pasti Pemilu itu adalah pestanya rakyat. Rakyat yang menentukan siapa pemimpinnya.

    Posted by DOMI | 29 Maret 2014, 00:21
  2. perjanjian demi kekuasaan

    Posted by natural rattan | 25 Maret 2014, 10:36
  3. politik cara memaknai sesuatu itu memang tergantung penafsiran sendiri-sendiri, sehingga apapun bisa dibenarkan menurut dirinya walaupun belumtentu benar menurut orang lain.

    Posted by mastur songenep | 20 Maret 2014, 09:26
  4. itulah politik memang menggelitik

    Posted by tatamor | 20 Maret 2014, 00:12

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: