Konservasi Alam

Pemanfaatan Air Tahura Sulteng

SungaiSalah satu hasil hutan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya adalah jasa lingkungan berupa air. Bagi masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah, air dari kawasan hutan merupakan sumber air utama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat yang bermukim di daerah hilir/daerah di bawah kawasan hutan. Pemanfaatan jasa lingkungan berupa air ini di antaranya dilakukan oleh masyarakat di sekitar Taman Hutan Raya (Tahura) Poboya-Paneki.

Pemanfaatan air oleh masyarakat di sekitar Tahura Poboya-Paneki dilakukan dengan memanfaatkan air sungai yang besumber dari Tahura Poboya-Paneki. Beberapa Sungai-sungai utama yang menjadi sumber air untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat adalah Sungai Watutela; Sungai Poboya; Sungai Kawatuna; Sungai Ngia dan Sungai Ngatabaru; serta Sungai Pombewe.

Sungai Watutela untuk pemenuhan air bersih bagi penduduk Kelurahan Tondo dan Kelurahan Layana Indah, serta lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah/pemerintah daerah (Universitas Tadulako, Universitas Terbuka, Balai Bahasa, Sekolah Politeknik Palu, SMPN 19 Palu, Sekolah Dasar, Puskesmas dan lain-lain).Sungai Poboya untuk pemenuhan air bersih bagi penduduk Kelurahan Talise, Kelurahan Poboya, Kelurahan Lasoani, serta lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah.Sungai Kawatuna untuk pemenuhan air bersih bagi penduduk Kelurahan Kawatuna dan lembaga-lembaga pemerintah, dan lain-lain.Sungai Ngia dan Sungai Ngatabaru untuk pemenuhan air bersih bagi penduduk Desa Ngatabaru.Sedangkan Sungai Pombewe untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk Desa Pombewe dan Desa Loru, serta untuk air irigasi.

Tahura merupakan kawasan pelestarian alam yang ditetapkan untuk tujuan koleksi tumbuh-tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau bukan alami, dari jenis asli atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan/atau satwa, budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, secara umum pengelolaan kawasan konservasi merupakan kewenangan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan. Satu-satunya kewenangan provinsi terkait dengan kawasan konservasi adalah sebatas pengelolaan Tahura. Provinsi Sulawesi Tengah memiliki Tahura seluas 7.128 Ha, terletak di lintas antara Kota Palu dan Kabupaten Sigi. TAHURA berada pada kondisi topografi datar, berbukit dan bergunung, dengan kemiringan 8 – 60 persen, dan ketinggian 100 – 1.500 dari permukaan laut.

Beberapa potensi flora yang terdapat di Tahura Sulawesi Tengah diantaranya cendana (Santalum album), angsana (Pterocarpusindicus), nyatoh (Palaquium sp) dan kayu hitam (Diospyros celebica). Dengan potensi fauna diantaranya burung tekukur hutan (Geopelia sp., Streptopelis sp), burung kakak tua jambul kuning (Cacatua sulphurea) dan biawak (Varanus salvator).

Agar Tahura dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan, maka kepedulian para pihak untuk menjaga dan melestarikan Tahura akan memberikan kontribusi positif terhadap keberadaan Tahura.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: