Konservasi Alam

Burung Tidak Dilindungi dari Sulawesi Tengah

brDalam terciptanya keseimbangan ekosistem, burung termasuk dalam satwa yang memiliki peran dalam menunjang kehidupan manusia. Satwa yang memiliki sepasang sayap, dua kaki, berkembang biak dengan cara bertelur, dan termasuk dalam kelompok vertebrata ini banyak dimanfaatkan dan dipelihara manusia. Untuk itu, agar dapat bermanfaat bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang, pemanfaatannya dari alam harus dilakukan secara berkelanjutan.

Berikut beberapa spesies kunci burung dari wilayah Sulawesi Tengah yang masuk dalam daftar kuota tumbuhan dan satwa liar yang diperdagangkan. Burung-burung ini termasuk dalam satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang dan tidak termasuk dalam Appendix CITES.

1. Burung Pergam Bodas/Pied Imperial Pigeon (Ducula bicolor)

Ducula biocolor Sumber: id.wikipedia.org

Foto: id.wikipedia.org

Pergam Bodas/Pied Imperial Pigeon (Ducula bicolor) atau yang di Sulawesi Tengah dinamai dengan Kumkum/Putia termasuk dalam Ordo Columbifomes dengan Famili Columbidae.

Burung ini berukuran 36 – 42,5 centimeter (Coates et al., 2000). Memiliki bulu berwarna putih dengan bulu terbang dan sebagian besar ekornya berwarna hitam. Iris mata berwarna coklat dengan paruh berwarna abu-abu kebiruan, begitu pula dengan kulit di sekitar mata dan kakinya. Burung jantan dan betina serupa. Burung muda memiliki bulu berwarna putih keabu-abuan.[i]

Habitat burung ini di hutan pulau-pulau kecil, pesisir, hutan bakau dan rawa-rawa. Sarangnya terbuat dari ranting-ranting dan terletak di atas dahan pohon, dekat dengan sumber air.[ii]

Burung ini termasuk dalam golongan satwa yang tidak dilindungi oleh undang-undang dan tidak termasuk dalam Appendix CITES (konvensi internasional yang betujuan untuk membantu pelestarian populasi di habitat alamnya melalui pengendalian perdagangan intenasional spesimen tumbuhan dan satwa liar).

2. Burung Bondol Hitam Kepala Hitam/Tricoloured Munia (Lonchura malacca)

Foto: en.wikipedia.org

Foto: en.wikipedia.org

Burung Bondol Hitam Kepala Hitam/Tricoloured Munia (Lonchura malacca) termasuk dalam Ordo Passeriformes dengan Famili Estrildidae, dalam bahasa daerah burung ini dinamai Rone/Dena. Burung ini memiliki panjang tubuh 11 cm (Coates et al., 2000), Kepala dan leher berwarna hitam, bagian punggung berwarna cokelat tua, tubuh bagian bawah berwarna putih, paha dan sebagian perut serta tunggirnya berwarna hitam.

Iris mata berwarna merah, sedangkan paruhnya putih kebiruan, atau kelabu muda kebiruan. Warna kedua kakinya  juga kelabu kebiruan. Burung jantan dan betina memiliki penampilan fisik yang sama, sehingga susah sekali untuk dilakukan sexing.

Adapun burung muda berwarna cokelat kotor pada semua bagian tubuhnya. Tubuh bagian atasnya lebih cokelat daripada tubuh bagian bawah yang jauh lebih muda. Setelah berganti bulu dari bulu trotol ke bulu dewasa, maka warna hitam di kepala dan leher mulai terlihat.

Burung ini sering tampak menggerombol dalam jumlah besar, terbang atau hinggap memakan biji rumput-rumputan. Terutama menghuni paya atau padang rumput berawa, atau di hutan di sekitar persawahan. Musim kawin terutama berlangsung antara Juni – Oktober. Telur berjumlah 5–7 butir, putih, disimpan dalam sarang dari rerumputan kering berbentuk bola, yang dibangun di semak-semak atau di antara batang-batang rumput tinggi.[iii]

Asal-usul burung ini adalah dari India dan Sri Lanka,[iv] namun kini telah diintroduksi di banyak wilayah, termasuk Sulawesi.

Burung ini termasuk dalam golongan satwa yang tidak dilindungi oleh undang-undang dan tidak termasuk dalam Appendix CITES (konvensi internasional yang betujuan untuk membantu pelestarian populasi di habitat alamnya melalui pengendalian perdagangan intenasional spesimen tumbuhan dan satwa liar). Sedangkan dari sisi status konservasi, IUCN Red List (daftar yang membahas status konservasi  berbagai jenis makhluk hidup seperti tumbuhan dan satwa yang dikeluarkan oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), satwa ini termasuk dalam kondisi risiko rendah/least consern (versi 3.1).

3. Burung Decu Belang/Pied Bushchat (Saxicola caprata)

Foto: en.wikipedia.org

Foto: en.wikipedia.org

Burung Decu Belang (Saxicola caprata) termasuk dalam Ordo Passeriformes dengan Famili Muscicapidae. Burung ini merupakan salah satu jenis burung yang ada di dataran Sulawesi Tengah. Burung ini memiliki suara yang lumayan tinggi, merdu dan banyak variasinya. Decu memiliki rupa yang mirip dengan burung kacer, hanya saja ukuran burung ini lebih kecil jika dibanding dengan burung kacer. Karena itu, sebagian orang menyebutnya dengan sebutan kacer mini.

Burung yang termasuk dalam Famili Muscicapidae ini kurang lebih berukuran ±14 cm. Dengan ciri pada burung jantan memiliki warna hitam, dengan bercak bahu, tungir dan tungging putih. Sedangkan burung betina memiliki warna coklat keabu-abuan, dengan bercak-bahu putih dan tungir putih.

Habitat burung decu umumnya berada di padang rumput dan semak-semak di lembah-lembah hutan pamah dan dataran tinggi. Di habitat aslinya ini, decu termasuk ke dalam tipe burung pemakan serangga.

Burung decu termasuk dalam golongan satwa yang tidak dilindungi oleh undang-undang dan tidak termasuk dalam Appendix CITES (konvensi internasional yang betujuan untuk membantu pelestarian populasi di habitat alamnya melalui pengendalian perdagangan intenasional spesimen tumbuhan dan satwa liar). Sedangkan dari sisi status konservasi, IUCN Red List (daftar yang membahas status konservasi  berbagai jenis makhluk hidup seperti tumbuhan dan satwa yang dikeluarkan oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), satwa ini termasuk dalam kondisi risiko rendah/least consern.

4. Burung Merpati/Rock Pigeon (Columba livia)

Foto: id.wikipedia.org

Foto: id.wikipedia.org

Burung Merpati/Rock Pigeon (Columba livia) termasuk dalam Ordo Columbifomes dengan Famili Columbidae, dalam bahasa daeah burung ini dinamai Pombo/Banggebodo. Burung ini memiliki ukuran sedang (32 cm), berwarna abu-abu kebiruan. Ada garis-garis hitam pada sayap dan ujung ekor serta kilapan ungu kehijauan pada kepala dan dada. Iris coklat, paruh warna tanduk, kaki abu-abu. Burung ini bersuara mirip suara merpati piaraan yang terkenal.[v]

Pada mulanya burung ini merupakan burung penghuni tebing, tetapi kemudian beradaptasi dengan kondisi perkotaan. Hidup berkelompok, sering bertengger pada bangunan atau bertebaran di permukaan tanah. Mencari makan di taman, pekarangan dan daerah terbuka.[vi]

Burung ini diintroduksi hampir ke seluruh penjuru dunia. Populasi liar terbentuk dengan sendirinya di kota-kota besar, termasuk di Indonesia.

Burung ini termasuk dalam golongan satwa yang tidak dilindungi oleh undang-undang dan tidak termasuk dalam Appendix CITES (konvensi internasional yang betujuan untuk membantu pelestarian populasi di habitat alamnya melalui pengendalian perdagangan intenasional spesimen tumbuhan dan satwa liar). Sedangkan dari sisi status konservasi, IUCN Red List (daftar yang membahas status konservasi  berbagai jenis makhluk hidup seperti tumbuhan dan satwa yang dikeluarkan oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), satwa ini termasuk dalam kondisi risiko rendah/least consern.

5. Burung Tekukur Biasa/Spotted Dove (Streptopelia chinensis)

Foto: id.wikipedia.org

Foto: id.wikipedia.org

Burung Tekukur Biasa/Spotted Dove (Streptopelia chinensis) termasuk dalam Ordo Columbifomes dengan Famili Columbidae, dalam bahasa daerah burung ini dinamai Togou. Burung ini memiliki panjang tubuh 30 – 32 cm. Besar, berbintik putih, kerah leher belakang hitam; penutup sayap dan punggung pucat dan bertotol gelap; bulu ekor luar kehitaman, berujung putih lebar (Coates et al., 2000).

Burung Tekukur memakan biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. burung ini mencari makanan di padang rumput dan ladang. Berkembang biak sepanjang tahun, dengan sarang-sarang dari ranting biasa terdapat di atas pohon, tepi bangunan, atau juga di atas tanah. Burung ini menghasilkan dua buah telur berwarna putih.

Tidak begitu senang berkelompok, dan biasanya hidup sendiri atau pasangan. Pola terbangannya serupa dengan Burung Merpati, apabila mendarat ekornya ke atas. Saat musim kawin, burung jantan akan mengangkat ekornya dengan sudut yang curam dan mengelilingi burung betina serta mengembangkan sayap dan ekornya.

Burung ini sebagian besar terdapat di kawasan hutan yang terbuka, tanah ladang, dan pesawahan. Selain di Sulawesi Tengah, Penyebaan burung ini di Indonesia terdapat di Jawa, tetapi juga merupakan burung sangkar yang terkenal dan telah diintroduksi secara luas termasuk di Sulawesi.

Burung ini termasuk dalam golongan satwa yang tidak dilindungi oleh undang-undang dan tidak termasuk dalam Appendix CITES (konvensi internasional yang betujuan untuk membantu pelestarian populasi di habitat alamnya melalui pengendalian perdagangan intenasional spesimen tumbuhan dan satwa liar). Sedangkan dari sisi status konservasi, IUCN Red List (daftar yang membahas status konservasi  berbagai jenis makhluk hidup seperti tumbuhan dan satwa yang dikeluarkan oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), satwa ini termasuk dalam kondisi risiko rendah/least consern (versi 3.1).

Referensi:

[i]      Wikipedia – Enslikopedia Bebas. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ducula_bicolor).
[ii]     Ibid.
[iii]   Wikipedia – Ensiklopedia Bebas (http://id.wikipedia.org/wiki/ Bondol_rawa)
[iv]    Ibid.
[v]     Fauna Identitas Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung. (http:// bk.menlh.go.id/florafauna/08lampng/_08lampung_fauna.htm).
[vi]    Fauna Identitas Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung. (http://bk. menlh.go.id/florafauna/08lampng/_08lampung_fauna.htm.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

11 thoughts on “Burung Tidak Dilindungi dari Sulawesi Tengah

  1. Perlindungan dengan menganut skala prioritas kepunahan dan keseimbangan populasi ya Pak.
    Selamat terus berkarya bagi perbaikan lingkungan hidup.

    Posted by prih | 19 September 2014, 22:01
  2. Tidak dilindungi, karena burung-burung ini termasuk yang mudah berkembang biaknya barangkali ya.

    Posted by ysalma | 18 September 2014, 13:43
  3. Saya bukan pecinta burung. Namun kayaknya, sangat di sayangkan jika burung-burung tersebut tidak di lindungi. Apalagi keberadaanya sekarang sudah mulai langka..

    Posted by Andika Xp | 16 September 2014, 20:34
  4. Weleh, dari semua buruang di atas, saya tahunya cuma merpati dan tekukur saja. Bondol sama pipit apa bedanya Mas?

    Posted by wage rahardjo | 16 September 2014, 18:15
  5. Saya pecinta burung mas, terutama kenari.
    apakah kenari juga tergolong satwa yang tidak dilindungi oleh undang-undang ?
    salam dari Malang

    Posted by misbach | 16 September 2014, 11:20

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: