Konservasi Alam

Perkembangan Program REDD+ di Sulawesi Tengah

Kemarin sore, 26 September 2011, saya mendapat tugas dari pimpinan untuk menjadi salah satu narasumber pada kegiatan talkshow di salah satu stasiun radio terkait dengan saveguard dalam proses implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, yang diinisiasi oleh Kelompok Kerja (Pokja) Pantau dalam hal ini pelaksana Walhi Sulteng, dengan thema ‘perlindungan hak asasi manusia dalam proses implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah’.

Proses talkshow berjalan cair, dengan nara sumber lain, diantaranya seorang aktivis LSM lingkungan dan seorang akademisi. Seperti biasa, mereka mengkritik (secara positif) beberapa kebijakan dan implementasi pembangunan kehutanan, termasuk program REDD+.

Dua pernyataan kritis dari kedua narasumber di atas yang sangat berkesan adalah (1) apakah implementasi REDD+ dapat memberikan jaminan untuk tidak mengabaikan kepentingan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan hutan; (2) kenapa persiapan implementasi REDD+ berjalan sangat lambat.

Walaupun acara talkshow sudah selesai kemarin, dengan durasi hanya 1 jam, dikurangi dengan selingan beberapa iklan. Namun kesan saya terhadap dua pernyataan di atas belum juga hilang. Dua pernyataan kritis ini juga yang akhirnya pada hari ini, menyemangati saya untuk menulis dan memposting tulisan tentang implementasi REDD+ di blog ini.

Seperti telah diketahui oleh para aktifis lingkungan dan pelestari hutan, bahwa Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang menjadi percontohan program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degredation, carbon stock enhancement ang forest conservation). Program ini difasilitasi oleh UN-REDD Programme Indonesia, merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia (dalam hal ini kementerian kehutanan) dengan FAO, UNDP dan UNEP.

Pelaksanaan REDD+ sendiri diwadahi dalam lima bentuk kegiatan utama yaitu: mengurangi laju deforestasi, mengurangi degradasi hutan, menjaga ketersediaan karbon melalui konservasi hutan, menerapkan sustainable forest management, dan meningkatkan stock karbon hutan dengan project proponent bisa berasal dari pemerintah, sektor swasta, lembaga dan organisasi masyarakat adat atau lokal, LSM dan mitra pembangunan internasional.

Penunjukan Sulawesi Tengah sebagai salah satu percontohan program UN-REDD+ didasari atas serangkaian kriteria seleksi: (1) masih ada deforestasi namun tutupan lahan masih relative baik; (2) kepadatan karbon yang relative tinggi; (3) dukungan poloitik daerah yang kuat; (4) kapasitas daerah yang cukup kuat untuk mendorong tercapainya hasil yang cepat; (5) penyebab deforestasi dapat dikenali dengan mudah; (6) REDD+ di wilayah ini dapat menghasilkan manfaat yang signifikan; (7) referensi pemerintah; (8) serta belum adanya inisiatif REDD+ lainnya di wilayah Sulawesi Tengah.

Bila dibandingkan dengan beberapa persiapan program lain di Sulawesi Tengah yang pelaksanaannya disiapkan oleh Pokja, perkembangan persiapan implementasi REDD+ berjalan lebih maju. Mengutif catatan UN-REDD Programme Indonesia dalam buku tipisnya yang berjudul implementasi mekanisme REDD+ di Sulawesi Tengah (2011), bahwa tahap kesiapan REDD+ di Sulawesi Tengah mengalami kemajuan yang cukup pesat dengan partisipasi aktif dan antusiasme tinggi penduduk serta dukungan UN-REDD Programme Indonesia. Aktifitas-aktifitas yang membangun kapasitas masyarakat dalam mengimplementasikan REDD+ diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat itu sendiri. Aktivitas-aktivitas pembangunan kapasitas dilakukan melalui serangkaian lokakarya yang salah satunya menitik beratkan pada pembentukan kelompok kerja (Pokja) REDD+ Sulawesi Tengah.

Perlindungan Hak Masyarakat Adat dan Lokal

Diperkirakan lebih dari 25.000 buah desa di Indonesia yang seluruh atau sebagian wilayah berada dalam kawasan hutan (kemenhut: 2007, 2009). Sedangkan Word Bank (2009), memperkirakan ada 6 juta jiwa yang peri kehidupannya bergantung pada sumber daya yang terdapat di dalam kawasan hutan. Data Dephut dan BPS (2009) luas wilayah di tepian hutan Propinsi Sulawesi Tengah mencapai 3.209.147 Ha, setara dengan 33 % penduduk Sulawesi Tengah bermukim di dalam dan sekitar kawasan hutan.

Kenyataan ini menunjukan bahwa, kegiatan REDD+ di kawasan hutan akan sukses bilamana mendapat dukungan dari masyarakat adat dan lokal, terutama yang bermukim di dalam dan di sekitar kawasan hutan, dengan menjamin pemenuhan hak masyarakat adat dan local.

Untuk memastikan program REDD+ menjamin pemenuhan hak masyarakat adat dan local, maka Free, Prior and Informed Consent (FPIC) telah menjadi mandat kesepakatan internasional yang mewajibkan pelaksanaan proyek REDD+ memenuhi hak masyarakat adat dan atau masyarakat local atas FPIC. Karena itu, masyarakat adat dan atau masyarakat local yang akan menerima dampak dari implementasi REDD+ diposisikan sebagai subjek utama dalam FPIC. Terutama sekali masyarakat adat dan masyarakat local yang kehidupannya tergantung pada sumberdaya hutan (forest dependent community).

Secara nasional, disamping bertujuan untuk pemenuhan hak, FPIC merupakan salah satu alat untuk menjamin bahwa pelaksanaan REDD+ di Indonesia memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat adat dan atau masyarakat local.

FPIC memungkinkan masyarakat adat dan atau masyarakat local untuk menjalankan hak-hak fundamentalnya untuk menyatakan apakah mereka setuju atau tidak setuju terhadap sebuah aktivitas, proyek, atau kebijakan yang akan dilaksanakan di ruang kehidupan masyarakat dan berpotensi berdampak kepada tanah, kawasan, sumberdaya dan perikehidupan masyarakat,

Perkembangan Program UN-REDD+ di Sulawesi Tengah

Sebagaimana dirangkum dalam catatan UN-REDD Programme Indonesia dalam buku tipisnya yang berjudul implementasi mekanisme REDD+ di Sulawesi Tengah (2011), dan pengalaman pribadi sebagai salah seorang anggota Pokja REDD+ Sulawesi Tengah,  perkembangan program REDD+ tergambar dalam beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan, antara lain:

1. Peluncuran dan Lokakarya UN-REDD Programme Indonesia

Dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2010 dengan peluncuran dan pembukaan lokakarya oleh Gubernur Sulawesi Tengah.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah: (1) peluncuran UN-REDD Prorgamme Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari konsultasi para pemangku kepentingan di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah; (2) memperkenalkan dan mensosialisasikan UN-REDD Prorgamme Indonesia kepada para pemangku kepentingan di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah.

 2. Konsultasi Regional

Dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2010, dengan melibatkan unsur pemerintah provinsi (Bappeda, Dishut, Distan, Distamben, PU, BLHD, BKPMD), unsur organisasi sipil masyarakat dan masyarakat adat, unsur swasta, dan unsur perguruan tinggi.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah: (1) penyebarluasan rancangan pertama dokumen Strategi Nasional REDD+ kepada para pemangku kepentingan dari semua provinsi di Sulawesi; (2) mendapatkan masukan dan saran perbaikan terkait dengan rancangan pertama naskah Strategi Nasional REDD+.

3. Pembentukan Tim Sekretariat Pendukung Pembentukan Kelompok Kerja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah di Lingkup Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah

Dilaksanakan atas prakarsa Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah selaku pusat kegiatan (focal point) UN-REDD Programme Indonesia di Sulawesi Tengah.

Tim ini beranggotakan 12 orang, dengan tugas sebagai berikut: (1) menyiapkan administrasi dan ketatalaksanaan yang diperlukan dalam rangka pembentukan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah; (2) memfasilitasi kegiatan-kegiatan pembahsan dan penyusunan Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah tentang Pembentukan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah; (3) menyiapkan bahan dan hasil pelaksanaan pembentukan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

4. Pengembangan kapasitas mengenai persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan atau free, prior and Informed Consent (FPIC) bagi Pokja REDD+ Sulawesi Tengah

Kegiatan ini bertujuan menghimpun masukan-masukan demi kelancaran pelaksanaan kegiatan pembahsan FPIC dan pembentukan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

5. Penyusunan alur dan tata kerja FPIC melalui proses pemangku kepentingan multipihak

Kegiatan ini dihadiri oleh Tim Sekretariat Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, SKPD, LSM, perguruan tinggi dan masyarakat adat Sulawesi Tengah.

Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan pemahaman FPIC; (2) meningkatkan peranan dan keterlibatan FPIC dalam rencana pelaksanaan suatu kegiatan; (3) menetapkan batasan-batasan FPIC dalam pelaksanaan kegiatan REDD+.

6. Memperkenalkan UN-REDD Programme ke sector swasta

Peserta kegiatan berasal dari unsur Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Sulawesi Tengah, Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Programme Management Unit (PMU) UN-REDD Program Indonesia.

Tujuan utamanya adalah : (1) mendapatkan masukan atau saran dari APHI Sulteng tentang pelaksanaan Program UN-REDD+, termasuk data atau informasi tentang kondisi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Sulawesi Tengah; (2) menetapkan perwakilan APHI yang akan masuk dalam keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil dari kegiatan ini adalah terpilihnya 4 orang sebagai perwakilan APHI Sulawesi Tengah di keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

7. Penentuan perwakilan masyarakat adat dan masyarakat local dalam Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah

Peserta kegiatan berasal dari unsur masyarakat adat dan masyarakat local Sulawesi Tengah, Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Programme Management Unit (PMU) UN-REDD Program Indonesia.

Tujuan utamanya adalah : (1) membahas peranan FPIC dalam perencanaan suatu kegiatan; (2) pelibatan masyarakat adat dan masyarakat local dalam kegiatan REDD+; (3) menetapkan wakil masyarakat adat dan masyarakat local dalam keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil dari kegiatan ini adalah terpilihnya 4 orang sebagai perwakilan mayarakat adat dan masyarakat local Sulawesi Tengah di keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

8. Konsolidasi dan perutusan LSM dalam Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah

Kegiatan ini dilaksanakan dan diikuti oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat Sulawesi Tengah, Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Programme Management Unit (PMU) UN-REDD Program Indonesia. 

Tujuan utamanya adalah : (1) membahas peranan LSM dalam kegiatan REDD+; (2) menetapkan para wakil LSM yang akan dalam keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil dari kegiatan ini adalah terpilihnya 5 orang sebagai perwakilan LSM di keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

9. Finalisasi pembentukan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Peserta kegiatan terdiri dari SKPD terkait, UPT Kemenhut, perwakilan LSM, perwakilan masyarakat adat dan masyarakat local, perwakilan APHI, serta PMU UN-REDD Programme Indonesia.

Topik yang dibahas dalam kegiatan ini adalah: (1) dasar-dasar yang akan dijadikan pertimbangan dalam menyusun keputusan pembentukan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah; (2) tugas pokok dan fungsi Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah;  (3) susunan keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah yang disepakati oleh semua pihak yang terlibat dalam keanggotaannya.

Hasil dari kegiatan ini adalah terbentuknya Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2011 yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur No. 522/84/DISHUTDA-G.ST/2011 tanggal 18 Februari 2011.

Kelompok Kerja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah terdiri dari: (1) bidang kebijakan terkait implementasi REDD+ atau Strategi daerah; (2) bidang kelembagaan dan metodologi; (3) Bidang aktivitas percontohan atau DA; dan (4) bidang FPIC, pemberdayaan dan pengembangan kapasitas daerah dan masyarakat.

10. Penyusunan Rencana Kerja Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 11-12 Maret 2011, yang dihadiri oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), National Programme Director UN-REDD Programme Indonesia, PMU UN-REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah, dan semua anggota Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

Tujuan utama kegiatan ini adalah: (1) pelibatan semua anggota dalam penyusunan rencana kerja Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah; (2) membangun pemahaman dan persepsi yang sama diantara semua anggota Pokja dalam penyusunan rencana kerja Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah; (3) tersusunnya rencana kerja (kegiatan dan tata waktu) semua bidang Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah sebagai acuan dan arah yang jelas dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya; (4) Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dapat segera melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Hasil dari kegiatan ini adalah rencana kerja setiap bidang Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

11. Pengukuhan Keanggotaan Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2011 yang dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, PMU UN-REDD Programme Indonesia, SKPD terkait lingkup Prov. Sulteng, dinas yang membidangi kehutanan di kabupaten/kota, semua anggota Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.

Tujuan kegiatan adalah agar Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah diakui dan diketahui keberadaannya oleh semua pemangku kepentingan yang ada di Sulawesi Tengah.

12. Sinkronisasi dan Penyempurnaan Rencana Kerja Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2011

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2011 yang dihadiri oleh semua Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun tujuan utama kegiatan ini adalah: (1) penyempurnaan rencana kerja masing-masing bidang Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah; (2) sinkronisasi rencana kerja Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah antara bidang satu dengan bidang lainnya, sehingga kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan akan berjalan secara efektif dan efisien.

13. Penentuan Kriteria dan Indikator Lokasi Aktivitas Percontohan REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2011 yang dihadiri oleh secretariat Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dan semua anggota Pokja Bidang III (Demonstration Activities atau DA).

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah: (1) tersedianya pedoman dan acuan berupa dokumen kriteria dan indicator penetapan lokasi kabupaten DA Sulawesi Tengah; (2) terciptanya kesamaan persepsi bagi bidang DA Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dalam melaksanakan penetapan lokasi DA Sulawesi Tengah.

14. Pelatihan Penginderaan Jauh (Remote Sensing)

Kegiatan ini dilaksanakan guna mendukung pelaksanaan system pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (measuring, reporting and verifying atau MRV). Kegiatan dilaksanakan atas kerjasama UN-REDD Programme Indonesia dengan universitas Tadulako, pada tanggal 27 Juni sampai dengan 9 Juli 2011.

15. Penyusunan Draf Strategi Daerah

Kegiatan dihadiri oleh sekretariat Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dan semua anggota Pokja Bidang I (bidang kebijakan terkait implementasi REDD+ atau Strategi daerah).

16. Penyusunan serta Komunikasi tentang Kriteria dan Indikator Pemilihan DA

Kegiatan dilaksanakan dan dihadiri oleh secretariat Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dan semua anggota Pokja Bidang III (Demonstration Activities atau DA).

17. Pelatihan dan Penyusunan Pedoman Pelaksanaan FPIC

Kegiatan dilaksanakan dan dihadiri oleh sekretariat Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dan semua anggota Pokja Bidang IV (bidang FPIC, pemberdayaan dan pengembangan kapasitas daerah dan masyarakat).

Sebagai kata penutup dari tulisan ini, diharapkan dengan dukungan kebijakan, tertib hukum dan implementasi secara konsisten, mekanisme REDD+ di Sulawesi Tengah dapat mengurangi laju kerusakan hutan sekaligus memberikan distribusi manfaat untuk masyarakat adat dan masyarakat lokal.

About Noer

Salah seorang warga Kota Palu - Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki mimpi menyaksikan terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemajemukan masyarakat yang damai serta sejahtera ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Silahkan Ketik Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: